Sabtu, hari ke dua belas di tahun dua ribu tiga belas. Tempat : Plasa Telkom. Berawal dari usulan ka’ Ichal pada Grup Komunitas Blogger Kendari di Facebook, maka sore itu selepas Ashar, sejumlah pemuda (tampan tentunya) akan mengadakan diskusi guna menggagas kembali terbentuknya Komunitas Blogger Kendari. Komunitas yang pernah pernah mengalami masa jaya pada 2008 silam. Nah, gak tau mimpi apa semalam, sore itu ane niat banget datang cepat-cepat ke Telkom. Bahkan sebelum Ashar si Ashar udah ada di Telkom ( tumben rajin😀 ). Begitu lepas sholat Ashar, ane kembali menunggu seperti Bus Sabar Menanti tujuan Kendari – Makassar, Makassar – Kendari. Tak lama kemudian salah satu sesepuh Blogger Kendari akhirnya datang dengan style cool-nya😀. Beliau adalah Faisal Nur aka ka’ Ichal. Setelah om Ichal datang, Arul (sebut saja Bunga) kemudian menyusul. FYI, Belakangan santer terdengar bahwa Bunga memiliki niat yang sangat mulia yaitu ingin menggulingkan kekuasaan kakanda Arham Rasyid aka Arham Kendari sebagai pemegang tampuk kepemimpinan saat ini hehe.. ( Main-main ji nah om😀 )

Okeh okeh kita persingkat saja. Setelah semua teman-teman Blogger Kendari udah pada ngumpul, akhirnya diskusi bin musyawarah dapat dimulai.. Tiap-tiap pemimpin regu mempersiapkan barisannya.. halah..

Dari hasil diskusi tersebut ditelurkan beberapa kesepakatan, yaitu sebagai berikut :

  1. Menghidupkan kembali Komunitas Blogger Kendari yang sempat vakum selama beberapa waktu.
  2. Nama “Mosonggi” akan tetap digunakan sebagai Identitas Komunitas Blogger Kendari. Filosofi dari Mosonggi itu sendiri adalah kebersamaan. Mosonggi merupakan kegiatan yang lebih enak bila dilakukan bersama-sama (baca : rame-rame).
  3. Komunitas akan melakukan kegiatan pendahulu sebagai langkah awal dalam upaya untuk menghidupkan kembali Komunitas Blogger Kendari aka Mosonggi (Jenis kegiatan menyusul).
  4. Sebagai ajang silaturrahim antar Blogger (kan ceritanya kita belum saling kenal semua ini.. ) maka insya Allah pada hari Sabtu, 19 Januari 2013, akan dilakukan Gathering di Bintang Samudera.

Hanya 4 point di atas yang saya ingat hehe..😀

Mungkin ada poin-poin lain yang ingin kita tambahkan, kita tambahkanmi di kolom komen, nanti sa edit tulisanku..😀

Oh ya, berikut  daftar Blogger yang meluangkan waktunya kala itu :  Arham Kendari, Ichal Kemaraya, Arul Kendari, Suba, Rizwadhye Nur, Adam Wirya, Afsal Afsoul dan saya sendiri :malus:😀 Sayang seribu kali sayang hari itu tidak ada IGO😦

(Catatan : Postingan lain akan menyusul setelah point nomor empat dilaksanakan. Maaf postingannya telat😛 )

Sukses terus Blogger Kendari! Leundo to Mosonggi!😀

Berikut beberapa dokumentasi kegiatan.

4

Om Arham serius banget nih ngomong..

5

Ki – Ka : om Suba, om, Arul, om Ichal, dek Rama, om Arham, om Ucux, Adam

Noh, ada om Adi tuh di tengah :D

Noh, ada om Adi tuh di tengah😀

 

3

Suasana silaturrahim Komunitas Blogger Kendari 1

7

Kata om Arham : Coboy Senior😀

2

Inimi dari beberapa orang yang paling dituakan di Mosonggi :ngacir:😀

 

Dalam dunia Teknik Sipil khususnya Transportasi, terdapat dua jenis perkerasan, yaitu Perkerasan Kaku dan Perkerasan Lentur. Kali ini kita spesifik membahas mengenai Perkerasan Kaku atau yang biasa disebut dengan Rigid Pavement (istilah kerennya jie.. :D).

Perkerasan kaku adalah perkerasan yang menggunakan pelat (slab) beton dengan atau tanpa tulangan dan semen di atas tanah dasar dengan atau tanpa lapis pondasi bawah dan menggunakan aspal sebagai  lapisan permukaan.

Materi dibawah ini merupakan kumpulan dari serangkaian materi lain yang penulis lebur menjadi satu materi. Semoga materi ini bermanfaat bagi pembaca baik Professional, Mahasiswa Teknik Sipil, maupun masyarakat yang tertarik dengan dunia teknik🙂

PERKERASAN BETON SEMEN (PERKERASAN KAKU / RIGID PAVEMENT)

Perkerasan jalan beton semen atau perkerasan kaku, terdiri dari plat beton semen, dengan atau tanpa lapisan pondasi bawah, di atas tanah dasar. Dalam konstruksi perkerasan kaku, plat beton semen sering juga dianggap sebagai lapis pondasi, kalau di atasnya masih ada lapisan aspal.

Plat beton yang kaku dan memiliki modulus elastisitas yang tinggi, akan mendistribusikan beban lalu lintas ke tanah dasar yang melingkupi daerah yang cukup luas. Dengan demikian, bagian terbesar dari kapasitas struktur perkerasan diperoleh dari plat beton itu sendiri. Hal ini berbeda dengan perkerasan lentur dimana kekuatan perkerasan diperoleh dari tebal lapis pondasi bawah, lapis pondasi dan lapis permukaan; dimana masing-masing lapisan memberikan kontribusinya.

Yang sangat menentukan kekuatan struktur perkerasan dalam memikul beban lalu lintas adalah kekuatan beton itu sendiri. Sedangkan kekuatan dari tanah dasar hanya berpengaruh kecil terhadap kekuatan daya dukung struktural perkerasan kaku.

Lapis pondasi bawah, jika digunakan di bawah plat beton, dimaksudkan untuk sebagai lantai kerja, dan untuk drainase dalam menghindari terjadinya “pumping”.

Pumping adalah peristiwa keluarnya air disertai butiran-butiran tanah dasar melalui sambungan dan retakan atau pada bagian pinggir perkerasan, akibat gerakan lendutan atau gerakan vertikal plat beton karena beban lalu lintas, setelah adanya air bebas yang terakumulasi di bawah plat beton. Pumping dapat mengakibatkan terjadinya rongga di bawah plat beton sehingga menyebabkan rusak/retaknya plat beton.

PENYIAPAN TANAH DASAR DAN LAPIS PONDASI BAWAH

Pembentukan Permukaan

Persyaratan tanah dasar untuk perkerasan kaku sama dengan persyaratan tanah dasar untuk perkerasan lentur, baik mengenai daya dukung, kepadatan maupun kerataannya.

Lapis pondasi bawah untuk perkerasan kaku dapat berupa lean concrete (beton kurus), atau bahan berbutir yang bisa berupa agregat atau lapisan pasir (sand bedding). Lapis pondasi bawah tidak dimaksudkan untuk ikut menahan beban lalu lintas, tetapi lebih berfungsi sebagai lantai kerja dan sebagai fasilitas drainase agar air dapat bebas bergerak di bawah plat beton tanpa mengerosi butir-butir tanah yang membentuk tanah dasar. Oleh karena itu biasanya lapis pondasi bawah dari bahan berbutir harus memenuhi persyaratan sebagai filter material.

Persiapan penting yang harus dilakukan sebelum penghamparan plat beton meliputi berbagai hal seperti membentuk, membuat penyesuaian-penyesuaian seperlunya pada permukaan tanah dasar atau lapis pondasi bawah, dan bila perlu, menambahkan air dan memadatkan kembali permukaan disesuaikan dengan alinyemen dan potongan melintang seperti ditunjukkan dalam Gambar Rencana. Pembentukan permukaan secara teliti sangat penting bagi pelaksanaan ditinjau dari segi jumlah beton yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Bila digunakan metode dengan acuan tetap (fixed form) dianjurkan agar lapis pondasi bawah dibuat paling sedikit 30 cm lebih lebar dari pada lebar plat beton yang akan dicor, pada masing-masing sisi memanjang hamparan, yang akan berguna sebagai landasan acuan tetap. Bila digunakan metode dengan acuan gelincir (slip form) hal tersebut tidak diperlukan, karena biasanya alat penghampar sudah dilengkapi peralatan otomatis untuk mengatur ketinggian penghamparan sesuai dengan yang direncanakan (string control).

Bagian-bagian permukaan yang menonjol harus dikupas. Bagian-bagian, yang rendah harus diisi dan dipadatkan sesuai dengan persyaratan kepadatan. Bila alat pengupas dilengkapi dengan sistem pengatur ketinggian otomatis, maka alat tersebut dapat langsung dioperasikan di atas permukaan yang akan dibentuk.

Persyaratan dan Pemeriksaan Bentuk Akhir

Sebelum dilakukan penghamparan beton, tanah dasar atau lapisan pondasi bawah diperiksa kepadatan dan bentuk penampang melintangnya.

Permukaan lapisan yang akan dicor beton harus senantiasa bebas dari benda-benda asing, sisa-sisa beton, dan kotoran-kotoran lainnya.

Pemasangan Membran Kedap Air

Membran kedap air harus terdiri dari lembaran plastik yang kedap air setebal 125 micron yang berguna agar air semen dari plat beton yang dicor tidak meresap ke dalam lapisan di bawahnya, dan juga untuk mencegah adanya ikatan antara plat beton dengan lapis pondasi bawah yang akan mengakibatkan terjadinya retak-retak pada plat beton setelah terjadinya penyusutan pada waktu pengerasan beton.

Membran kedap air tersebut dipasang di atas permukaan lapis pondasi bawah yang telah siap. Lembar-lembar yang berdampingan dipasang overlap, dengan lebar tumpang-tindih tidak kurang dari 10 cm pada arah lebar dan 30 cm pada arah memanjang.

Pemasangan lembar kedap air harus dilakukan secara hati-hati untuk mencegah sobeknya lembar-lembar tersebut, dan harus dipaku ke permukaan lapis pondasi bawah agar tidak mudah tergulung akibat tiupan angin.

ACUAN

Persyaratan

Acuan (bekisting / form) yang digunakan harus cukup kuat untuk menahan beban-beban selama pelaksanaan. Kekuatan acuan yang terbuat dari baja lurus, harus diuji, dan harus memenuhi persyaratan bahwa acuan harus tidak melendut lebih besar dari 6,4 mm (1/4 inch) bila diuji sebagai balok biasa dengan bentang 3 m (10 ft) dan beban yang sama dengan berat mesin penghampar atau peralatan pelaksanaan lainnya yang mungkin akan bergerak di atasnya.

Tebal baja yang biasanya digunakan adalah 6,4 mm (1/4 inch) dan 8 mm (5/16 inch). Bila acuan harus mendukung alat penghampar beton yang berat, ketebalannya tidak boleh kurang dari 8 mm (5/16 inch). Dianjurkan agar acuan mempunyai tinggi yang sama dengan tebal rencana pelat beton dan lebar dasar acuan sama dengan 0,75 kali tebal pelat beton tapi kurang dari 200 mm (8 inch).

Acuan harus dipasang sedemikian rupa sehingga cukup kokoh, tidak melentur atau turun akibat tumbukan dan getaran alat penghampar dan alat pemadat. Lebar flens penguat yang dipasang pada dasar acuan harus menonjol keluar dari acuan tidak kurang dari 2/3 tinggi acuan.

Dalam pemeriksaan kelurusan dan kerataan acuan variasi kerataan bidang atas acuan tidak boleh lebih dari 0,32 cm (1/8 inch) untuk setiap 3 m (10 ft) panjang dan kerataan bidang dalam acuan tidak boleh lebih dari 0,64 cm (1/4 inch) untuk setiap 3 m (10 ft) panjang.

Ujung-ujung acuan yang berdampingan harus mempunyai sistem penguncian untuk menyambung dan mengikat erat acuan-acuan tersebut. Pada lengkungan dengan jari-jari kecil dianjurkan untuk menggunakan acuan yang dapat dibengkokkan (flexible form) atau acuan melengkung.

Untuk pekerjaan-pekerjaan yang relatif kecil, yang bersifat padat karya, maka acuan dari kayu dapat digunakan, untuk alat perata dapat menggunakan vibrator perata biasa (besi profil yang dilengkapi mesin penggetar dan ditarik tenaga manusia). Kayu untuk keperluan ini dibuat dari kayu yang cukup kuat dengan baja siku dipasang di atasnya, dengan angkur pemegang setiap 0,5 meter.

Pemasangan Acuan

Pemasangan acuan baja maupun kayu pada prinsipnya harus mengikuti ketentuan-ketentuan di bawah ini.

Pondasi acuan harus dipadatkan dan dibentuk sesuai dengan alinyemen dan ketinggian jalan yang bersangkutan sehingga acuan yang dipasang dapat disangga secara seragam pada seluruh panjangnya dan terletak pada elevasi yang benar.

Pembuatan galian untuk meletakkan acuan pada ketinggian yang tepat, sebaiknva dilakukan, dengan cara mengupas / mengeruk. Bekas galian di kiri dan kanan pondasi acuan, harus diisi dan dipadatkan kembali. Alinyemen acuan baru harus diperiksa dan bila perlu diperbaiki memanjang penghamparan beton.

Bila terdapat acuan yang rusak atau sesudah perbaikan pondasi yang tidak stabil, acuan harus disetel kembali. Acuan harus dipasang cukup jauh di depan tempat penghamparan beton sehingga memungkinkan pemeriksaan dan perbaikan acuan tanpa mengganggu kelancaran penghamparan beton.

Acuan dipasang pada posisi yang benar, dan tanah dasar atau lapis pondasi bawah pada kedua sisi luar dan dalam harus dipadatkan dengan baik menggunakan alat pemadat mesin atau manual. Acuan harus disangga pada tempatnya, paling sedikit setiap 3 m (10 ft).

Pembongkaran Acuan

Acuan harus tetap dipasang selama paling sedikit 8 jam setelah penghamparan beton. Setelah acuan dibongkar, permukaan beton yang terbuka harus segera dirawat.

BAHAN

Semen

a.    Semen harus merupakan semen portland jenis I, II atau III sesuai dengan AASHTO M 85.

b.    Kecuali diperkenankan lain, maka hanya produk dari satu pabrik atau satu jenis merk semen portland tertentu yang harus digunakan di proyek.

Air

Air yang digunakan dalam pencampuran, perawatan atau penggunaan-penggunaan tertentu lainnya harus bersih dan bebas dari bahan-bahan yang merugikan seperti minyak, garam, asam, alkali, gula atau bahan-bahan organik. Air harus diuji sesuai dengan dan harus memenuhi persyaratan AASHTO T 26.

Air yang diketahui dapat diminum dapat dipakai dengan tanpa pengujian.

Persyaratan Gradasi Agregat

a.    Gradasi agregat kasar dan halus harus memenuhi persyaratan yang diberikan dalam Tabel 4.3.

Bahan-bahan yang tidak memenuhi persyaratan gradasi ini dapat tidak ditolak asalkan Kontraktor dapat menunjukkan bahwa persyaratan yang dirinci dalam Butir 7.5.3. dapat dipenuhi jika menggunakan bahan-bahan tersebut.

Tabel 4.3.: Persyaratan Gradasi Agregat.

Ukuran Ayakan

Persentase Berat Yang Lolos

Standar (mm)

Inch

(in)

Agregat Halus

Pilihan Agregat Kasar

50

2

100

37

1,5

95-100

100

25

1

95-100

100

19

¾

35-70

90-100

100

13

½

25-60

90-100

10

3/8

100

10-30

20-55

40-70

4,75

#4

95-100

0-5

0-10

0-10

0-15

2,36

#8

0-5

0-5

0-5

1,18

#16

45-80

0,30

#50

10-30

0,15

#100

2-10

b.     Agregat kasar harus dipilih sedemikian rupa sehingga ukuran partikel terbesar tidak lebih besar dari pada ¾ jarak bersih minimum antara batang tulangan atau antara batang tersebut dengan acuan atau antara batasan-batasan ruang lainnya dimana pekerjaan beton harus ditempatkan.

Sifat Agregat

a.    Agregat untuk pekerjaan beton harus terdiri dari partikel yang bersih dan keras yang diperoleh dari pemecahan batu, atau dengan menyaring dan mencuci (bila perlu) kerikil dan pasir sungai.

b.    Agregat harus bebas dari bahan-bahan organik seperti yang dirinci dalam AASHTO T21 dan seperti diberikan dalam Tabel 4.4. bila diambil contoh dan diuji sesuai dengan ketentuan BS CP 114 dan prosedur AASHTO yang relevan.

c.    Agregat yang berupa bahan-bahan yang berukuran sama yang berasal dari berbagai sumber harus ditimbun dalam timbunan terpisah dan hanya boleh digunakan dalam struktur yang terpisah.

Tabel 4.4.: Sifat Agregat Beton.

Sifat

Pengujian AASHTO

Batas maksimum yang diijinkan

Agregat halus

Agregat kasar

Kehilangan akibat abrasi pada 500 putaran dengan mesin Los Angeles.

T 96

40 %

Kehilangan akibat penentuan kualitas dengan Sodium Sulfat setelah 5 siklus.

T 104

10%

12 %

Persentase gumpalan tanah liat dan pertikel yang dapat pecah dalam agregat.

T 112

0,50 %

0,25 %

Bahan-bahan yang lolos ayakan #200.

T 11

3 %

1 %

Bahan Tambah (Additive)

Penggunaan plastisator, bahan-bahan tambah untuk mengurangi air atau bahan tambah lainnya, harus mendapat persetujuan terlebih dahulu. Jika digunakan, bahan yang bersangkutan harus memenuhi AASHTO M 154 atau M 194.

Bahan tambahan yang bersifat mempercepat dan yang mengandung Calcium Chlorida tidak boleh digunakan.

Membran Kedap Air

Lapisan bawah yang kedap air harus terdiri dari lembaran plastik yang kedap setebal 125 mikron. Air tidak boleh tergenang di atas membran, dan membran harus kedap air sepenuhnya waktu beton dicor.

Lapisan bawah yang kedap air tidak boleh digunakan di bawah perkerasan jalan beton bertulang yang menerus.

Tulangan Baja

a.     Tulangan baja untuk jalur kendaraan harus berupa anyaman baja atau batang baja berulir sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar Rencana.

b.    Baja tulangan harus merupakan batang baja polos atau berulir grade U24 atau batang berulir grade U40 sesuai dengan persyaratan Sll 0136-84, kecuali jika disetujui lain atau diperlihatkan lain dalam Gambar Rencana.

c.    Tulangan anyaman kawat baja harus memenuhi persyaratan-persyaratan AASHTO M 55. Tulangan ini harus disediakan dalam bentuk lembaran-lembaran datar dan merupakan jenis yang disetujui.

d.    Batang baja harus memenuhi persyaratan AASHTO M 54. Bagian-bagiannya harus berukuran dan berjarak antara sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar Rencana.

e.    Batang baja untuk Ruji (Dowel) harus berupa batang bulat biasa sesuai dengan AASHTO M 31. Batang dowel berlapis plastik yang memenuhi AASHTO M 254 dapat digunakan.

f.    Batang pengikat (Tie bar) harus berupa batang baja berulir sesuai dengan AASHTO M 31.

 

Bahan-bahan untuk Sambungan

a.     Bahan-bahan pengisi siar muai harus sesuai dengan persyaratan-persyaratan AASHTO M 153 atau M 213. Bahan-bahan tersebut harus dilubangi untuk dilalui dowel-dowel sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar Rencana. Bahan pengisi untuk setiap sambungan harus disediakan dalam bentuk satu kesatuan utuh untuk tebal dan lebar penuh yang diperlukan untuk sambungan yang bersangkutan kecuali jika diijinkan lain. Di mana ujung-ujung yang berbatasan diperkenankan, maka ujung-ujung tersebut harus diikat satu sama lainnya dan dipertahankan dengan kokoh dan tepat ditempatnya dengan jepitan kawat (stapling) atau penyambung / pengikat yang baik lainnya.

b.     Bahan penutup sambungan (joint sealant) harus berupa Expandite Plastic, senyawa gabungan bitumen karet Grade 99 yang dituangkan dalam keadaan panas, atau bahan serupa yang disetujui. Bahan sambungan harus sebagaimana dianjurkan oleh pabrik pembuat bahan yang bersangkutan.

 

PEMBUATAN BETON

Pencampuran dan Penakaran

Perbandingan bahan dan berat penakaran harus menggunakan cara yang ditetapkan dalam BS CP 114.

Proporsi bahan dan berat penakaran harus sesuai dengan batas-batas yang diberikan dalam Tabel 5.1.

Campuran Percobaan

Kontraktor harus memastikan perbandingan campuran dan bahan-bahan yang diusulkan dengan membuat dan menguji campuran-campuran percobaan dengan menggunakan instalasi dan peralatan yang sama seperti yang akan digunakan nanti.

Campuran percobaan dapat dianggap dapat diterima asal memenuhi semua persyaratan sifat campuran yang ditetapkan dalam Butir 7.5.3. di bawah ini.

Persyaratan Sifat Campuran

a. Seluruh beton yang digunakan dalam pekerjaan harus memenuhi kuat tekan dan “slump” yang dibutuhkan seperti yang disyaratkan dalam Tabel 5.3, bila pengambilan contoh, perawatan dan pengujian sesuai dengan SNI 03-1974-19 90 (AASHTO T22), Pd M-16-1996-03 (AASHTO T23), SNI 03-2493-1991 (AASHTO T126), SNI 03-2458-1991 (AASHTO T141).

b.     Kuat tekan karateristik beton harus sesuai dengan persyaratan-persyaratan Tabel 5.3. Dengan menggunakan cara pengujian “the third point” kuat lentur karakteristik harus tidak kurang dari 45 kg/cm2.

c.     Beton tersebut harus merupakan jenis yang memiliki sifat kemudahan pengerjaan yang sesuai untuk mencapai pemadatan penuh dengan instalasi yang digunakan dengan tanpa pengaliran yang tak semestinya. Slump optimum sebagaimana diukur dengan cara pengujian AASHTO T 199 harus tidak kurang dari 20 mm dan tidak lebih besar dan 60 mm. Slump tersebut harus dipertahankan dalam batas toleransi ± 20 mm dari slump optimum yang disetujui. Beton yang tidak memenuhi persyaratan-persyaratan slump tersebut tidak boleh digunakan untuk plat beton perkerasan.

d.     Bilamana pengujian beton berumur 7 hari menghasilkan kuat beton di bawah kekuatan yang disyaratkan dalam Tabel 5.3., maka Kontraktor tidak diperkenankan mengecor beton lebih lanjut sampai penyebab dari hasil yang tidak memenuhi persyaratan tersebut dapat diketahui dengan pasti dan sampai telah diambil tindakan-tindakan yang menjamin bahwa produksi beton memenuhi ketentuan yang disyaratkan. Kuat tekan beton berumur 28 hari yang tidak memenuhi ketentuan harus diperbaiki sebagaimana disyaratkan. Kekuatan beton dianggap lebih kecil dari yang disyaratkan bilamana hasil pengujian serangkaian benda uji dari suatu bagian pekerjaan lebih kecil dari kuat tekan karakteristik yang diperoleh dari rumus.yang diuraikan dalam Butir 7.6.2.c.

Tabel 8.5.1.: Batasan proporsi takaran campuran

Mutu Beton

Ukuran Agregat Maksimum

(mm)

Rasio Air / Semen

(terhadap berat)

Kadar Semen Minimum

(kg/m3 dari campuran)

K500

0,375

450

K400

37

25

19

0,45

0,45

0,45

356

370

400

K350

37

25

19

0,45

0,45

0,45

315

335

365

K300

37

25

19

0,45

0,45

0,45

300

320

350

K250

37

25

19

0,50

0,50

0,50

290

310

340

K175

0,57

300

K125

0,60

250

Tabel 8.5.3.: Ketentuan sifat campuran

Mutu Beton

Kuat Tekan Karakteristik min. (kg/cm2)

Slump (cm)

Benda Uji Kubus

15 x 15 x 15 cm

Benda Uji Silinder

15 cm x 30 cm

Digetarkan

Tidak Digetarkan

7 hari

28 hari

7 hari

28 hari

K600

390

600

325

500

20 – 50

K500

325

500

260

400

20 – 50

K400

285

400

240

330

20 – 50

K350

250

350

210

290

20 – 50

50 – 100

K300

215

300

180

250

20 – 50

50 – 100

K250

180

250

150

210

20 – 50

50 – 100

K225

150

225

125

190

20 – 50

50 – 100

K175

115

175

95

145

30 – 60

50 – 100

K125

80

125

70

105

20 – 50

50 – 100

Catatan : bila menggunakan concrete pump, slump bisa berkisar antara 75 ± 25mm

e.     Pekerjaan dapat pula dihentikan dan atau memerintahkan Kontraktor mengambil tindakan perbaikan untuk meningkatkan mutu campuran atas dasar hasil pengujian kuat tekan beton berumur 3 hari. Dalam keadaan demikian, Kontraktor harus segera menghentikan pengecoran beton yang dipertanyakan tetapi dapat memilih menunggu sampai hasil pengujian kuat tekan beton berumur 7 hari diperoleh, sebelum menerapkan tindakan perbaikan.

f.     Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi ketentuan dapat mencakup pembongkaran dan penggantian seluruh beton tidak boleh berdasarkan pada hasil pengujian kuat tekan beton berumur 3 hari saja, perlu analisis teknis.

Kekuatan beton

Beton harus mempunyai kekuatan lentur karakteristik sebesar 45 kg/cm2 pada umur 28 hari bila diuji sesuai dengan ASSHTO T 97.

Bila pengujian dilakukan pada kubus 15 cm, kekuatan tekan karakteristik harus sebesar 350 kg/cm2 pada umur 28 hari.

Kekuatan beton 7 hari harus sebesar 0,7 x kekuatan lentur karakteristik.

Penyesuaian campuran

a.     Penyesuaian sifat kelecakan (workability)

Bilamana sulit memperoleh sifat kelecakan beton dengan proporsi yang semula dirancang, maka Kontraktor akan melakukan perubahan pada berat agregat sebagaimana diperlukan, asalkan dalam hal apa pun kadar semen yang semula dirancang tidak berubah, juga rasio air / semen yang telah ditentukan berdasarkan pengujian kuat tekan yang menghasilkan kuat tekan yang memenuhi, tidak dinaikkan.

Pengadukan kembali beton yang telah dicampur dengan cara menambah air atau cara lain tidak diperkenankan. Bahan tambah (aditiv) untuk meningkatkan sifat kelecakan hanya diijinkan bila secara khusus telah disetujui.

b.     Penyesuaian kekuatan

Bilamana beton tidak mencapai kekuatan yang disyaratkan atau disetujui, kadar semen harus ditingkatkan.

c.     Penyesuaian untuk bahan-bahan baru

Perubahan sumber bahan atau karakteristik bahan tidak boleh diiakukan tanpa mendapat persetujuan terlebih dahulu.

Penakaran agregat

a.     Seluruh komponen beton harus ditakar menurut beratnya. Bila digunakan semen kemasan dalam zak, kuantitas penakaran harus sedemikian sehingga kuantitas semen yang digunakan adalah setara dengan satu satuan atau pembulatan dari jumlah zak semen. Agregat harus diukur beratnya secara terpisah. Ukuran setiap penakaran tidak boleh melebihi kapasitas alat pencampur.

b.     Sebelum penakaran, agregat harus dibasahi sampai jenuh dan dipertahankan dalam kondisi lembab, pada kadar yang mendekati keadaan jenuh-kering permukaan, dengan menyemprot tumpukan agregat dengan air secara berkala. Pada saat penakaran, agregat harus telah dibasahi paling sedikit 12 jam sebelumnya untuk menjamin pengaliran yang memadai dari tumpukan agregat.

Pencampuran

a.    Beton harus dicampur dalam mesin yang dijalankan secara mekanis dari jenis dan ukuran yang disetujui sehingga dapat menjamin campuran yang merata dari seluruh bahan.

b.     Pencampur harus dilengkapi dengan tangki air yang memadai dan alat ukur yang akurat untuk mengukur dan mengendalikan jumlah air yang digunakan dalam setiap penakaran.

c.     Pertama-tama alat pencampur harus diisi dengan agregat dan semen yang telah ditakar, dan selanjutnya alat pencampur dijalankan sebelum air ditambahkan.

d.     Waktu pencampuran harus diukur pada saat air mulai dimasukkan ke dalam campuran bahan kering. Seluruh air yang diperlukan harus dimasukkan sebelum waktu pencampuran berlangsung seperempat bagian. Waktu pencampuran untuk mesin berkapasitas ¾ m3 atau kurang haruslah 1,5 menit; untuk mesin yang lebih besar waktu harus ditingkatkan 15 detik untuk tiap penambahan 0,5 m3.

PENGENDALIAN MUTU Dl LAPANGAN

Pengujian untuk kelecakan (workability)

Satu atau lebih pengujian “slump”, harus dilaksanakan pada setiap takaran beton yang dihasilkan.

Pengujian kuat tekan

Kontraktor harus melaksanakan tidak kurang dari 1 pengujian kuat tekan untuk setiap 60 m3 beton yang dicor. Setiap pengujian harus termasuk 3 contoh yang identik untuk diuji pada umur 3, 7 dan 28 hari. Tetapi bila jumlah beton yang dicor dalam satu hari memberikan kurang dari 5 contoh untuk diuji, maka contoh-contoh harus diambil dari 5 takaran yang dipilih secara acak. Contoh pertama dari contoh-contoh ini harus diuji pada umur 3 hari disusul dua oleh pengujian lebih lanjut pada umur 7 dan 28 hari.

Pengujian tambahan

Kontraktor harus melaksanakan pengujian tambahan yang diperlukan untuk menentukan mutu bahan atau campuran atau pekerjaan beton akhir, pengujian tambahan tersebut meliputi :

•     Pengujian yang tidak merusak menggunakan “sclerometer” atau perangkat penguji lainnya.

•     Pengambilan dan pengujian benda uji inti (core) beton.

•     Pengujian lainnya sebagaimana ditentukan secara khusus.

SAMBUNGAN DAN TULANGAN

Sambungan Memanjang dan Melintang

Sambungan (joint) dipasang pada perkerasan beton semen untuk mengendalikan penyebaran retakan akibat susut serta untuk menampung lenting pelat beton akibat perubahan suhu siang dan malam hari dan kelembaban.

Sambungan melintang dapat berupa sambungan susut, sambungan muai dan juga sambungan pelaksanaan.

Sambungan melintang dipasang tegak lurus sumbu jalan.

a.     Semua sambungan memanjang dan melintang harus dibuat sesuai dengan detail dan letak pada Gambar Rencana.

b.     Semua sambungan melintang harus dibuat segaris untuk seluruh lebar perkerasan. Bidang-bidang permukaan sambungan harus diusahakan tegak lurus terhadap bidang permukaan perkerasan.

c.     Dalam pembuatan sambungan, perhatian khusus perlu diberikan, guna menghindari ketidakrataan permukaan pada sambungan tersebut. Apabila pada sambungan diperlukan, maka harus digunakan mistar 3 m (10 ft) untuk menjamin kerataan pada sambungan tersebut. Pembentukan sambungan yang ditempatkan di depan perata (screed) dapat dibuat tenggelam (tip), sedangkan apabila ditempatkan di belakang perata dapat dipasang menonjol pada permukaan.

d.     Sambungan dengan lidah-alur, harus dicetak secara teliti dengan bahan cetakan yang cukup kuat agar didapat bentuk lidah-alur yang sempurna. Sambungan lidah-alur, dapat juga dibentuk secara sempurna dengan menggunakan mesin penghampar acuan gelincir.

e.     Apabila sambungan melintang dilakukan dengan cara menggergaji, maka penggergajian sambungan melintang harus diusahakan sebelum retak awal terjadi.

1.Sambungan Memanjang (Longitudinal Joints)

Batang baja ulir (deformed bar), sebagai batang pengikat (tie bars), dengan panjang, ukuran, dan jarak seperti yang ditentukan harus diletakkan tegak lurus sambungan memanjang memakai alat mekanik atau dipasang dengan besi dudukan (chair), untuk mencegah perubahan tempat. Batang pengikat tersebut tidak boleh di cat atau dilapisi aspal atau material lain atau dimasukkan tabung, kecuali untuk keperluan pelebaran nantinya.

Bila tertera dalam Gambar Rencana dan bila lajur perkerasan yang berdekatan dilaksanakan terpisah, acuan baja harus digunakan untuk membentuk keyway (takikan) sepanjang sambungan memanjang.

Tie bar dapat dibengkokkan dengan sudut tegak lurus acuan dari lajur yang dilaksanakan dan diluruskan kembali sampai posisi tertentu sebelum beton lajur yang berdekatan dihamparkan atau sebagai pengganti tie bar yang dibengkokkan dapat digunakan 2 batang tie bar yang disambung (two-piece connectors).

Sambungan memanjang acuan (longitudinal form joint) terdiri dari takikan / alur ke bawah memanjang pada permukaan jalan. Sambungan tersebut harus dibentuk dengan alat mekanis atau dibuat secara manual dengan ukuran dan garis sesuai Gambar Rencana sewaktu beton masih mudah dibentuk. Alur ini harus diisi dengan kepingan (filler) material yang telah tercetak sebelumnya (premolded) atau dicor (poured) dengan material penutup sesuai yang disyaratkan.

Sambungan memanjang tengah (longitudinal centre joint) harus dibuat sedemikian rupa sehingga ujungnya berhubungan dengan sambungan melintang (transverse joint), bila ada.

Sambungan memanjang gergajian (longitudinal sawn joint) harus dibuat dengan pemotong beton dengan gergaji beton yang disetujui sampai kedalaman, lebar dan garis sesuai Gambar Rencana. Untuk menjamin pemotongan sesuai dengan garis pada Gambar Rencana, harus digunakan alat bantu atau garis bantu yang memadai. Sambungan memanjang ini harus digergaji sebelum berakhimya masa perawatan beton, atau segera sesudahnya sebelum peralatan atau kendaraan diperbolehkan memasuki perkerasan beton baru tersebut. Daerah yang akan digergaji harus dibersihkan dan sambungan harus segera diisi dengan material penutup (sealer) sesuai dengan yang disyaratkan.

Sambungan memanjang tipe sisip permanen (longitudinal permanent insert type joints) harus dibentuk dengan menempatkan lembaran plastik yang tidak akan bereaksi secara kimiawi dengan bahan beton. Lebar lembaran ini harus cukup untuk membentuk bidang yang diperlemah dengan kedalaman sesuai Gambar Rencana. Sambungan dengan bentuk bidang lemah (weaken plane type joint) tidak perlu dipotong (digergaji). Ketebalan kepingan tidak boleh kurang dari 0,5 mm dan harus disisipkan memakai alat mekanis sehingga dijamin tetap berada pada posisi yang tepat. Ujung atas lembaran ini harus berada di bawah permukaan akhir (finished surface) perkerasan sesuai yang tertera pada Gambar Rencana.

Kepingan sisipan ini tidak boleh rusak selama pemasangan atau karena pekerjaan finishing pada beton. Garis sambungan harus sejajar dengan garis sumbu (centre line) jalan dan jangan terlalu besar perbedaan kerataannya. Alat pemasangan mekanis harus menggetarkan beton selama kepingan itu disisipkan sedemikian rupa agar beton yang terganggu kembali rata sepanjang pinggiran kepingan tanpa menimbulkan segregasi.

2.Sambungan Ekspansi Melintang (Transverse Expansion Joints)

Filler (bahan pengisi) untuk sambungan ekspansi (expansion joint filler) harus menerus dari acuan ke acuan, dibentuk sesuai dengan tanah dasar, dan takikan sepanjang acuan. Filler sambungan pracetak (preform joint filler) harus disediakan dengan panjang yang sama dengan lebar jalan atau sama dengan lebar satu lajur. Filler yang rusak atau yang sudah diperbaiki tidak boleh digunakan, kecuali bila disetujui.

Filler sambungan ini harus ditempatkan pada posisi vertikal. Alat bantu atau pemegang yang disetujui harus digunakan untuk menjaga agar filler tetap pada garis dan alinyemen yang semestinya selama penghamparan dan finishing beton. Perubahan posisi akhir sambungan tidak boleh lebih dari 5 mm pada alinyemen horisontalnya menurut garis lurus. Bila filler dipasang berupa bagian-bagian, maka di antara unit-unit yang berdekatan tidak boleh ada celah.

Pada sambungan ekspansi itu tidak boleh ada sumbatan atau gumpalan beton.

3.    Sambungan Kontraksi Melintang (Transverse Contraction Joints)

Sambungan ini terdiri dari bidang-bidang yang diperlemah dengan membuat takikan / alur dengan penggergajian permukaan perkerasan, disamping itu bila tertera pada Gambar Rencana juga harus mencakup pasangan alat transfer beban (load transfer assembly).

a.    Sambungan Kontraksi Kepingan Melintang (Transverse Strip Contraction Joints) Sambungan ini harus dibentuk dengan memasang kepingan sebagaimana tertera pada Gambar Rencana.

b.     Takikan / Alur (Formed Grooves) Takikan ini harus dibuat dengan menekankan alat ke dalam beton yang masih plastis. Alat tersebut harus tetap di tempat sekurang-kurangnya sampai beton mencapai pengerasan awal, dan kemudian harus dilepas tanpa merusak beton di dekatnya, kecuali bila alat itu memang didesain untuk tetap terpasang pada sambungan.

c.    Sambungan Gergajian (Sawn Contraction Joints) Sambungan ini harus dibuat dengan membuat alur dengan gergaji pada permukaan perkerasan dengan lebar, kedalaman, jarak dan garis sesuai yang tercantum pada Gambar Rencana, dengan gergaji beton yang disetujui. Setelah sambungan digergaji, bekas gergajian dan permukaan beton yang berdekatan harus dibersihkan.

Penggergajian harus dilakukan secepatnya setelah beton cukup keras agar penggergajian tidak menimbulkan keretakan, dan jangan lebih dari 18 jam setelah pemadatan akhir beton. Sambungan harus dibuat / dipotong sebelum terjadi retakan karena susut. Bila perlu, penggergajian dapat dilakukan pada waktu siang atau malam hari dalam cuaca apa pun. Penggergajian harus ditangguhkan bila di dekat tempat sambungan ada retakan. Penggergajian harus dihentikan bila retakan terjadi di depan gergajian. Bila retakan sulit dicegah ketika dimulai penggergajian, maka pembuatan sambungan kontraksi harus dibuat dengan takikan / alur sebelum beton mencapai pengeringan tahap awal sebagaimana dijelaskan di atas. Secara umum, penggergajian harus dilakukan berurutan.

d.    Sambungan Kontraksi Acuan Melintang (Tranverse Formed Contraction Joints) Sambungan ini harus sesuai dengan ketentuan untuk sambungan acuan longitudinal (longitudinal formed joints).

e.     Sambungan Konstruksi Melintang (Transverse Construction Joints) Sambungan ini harus dibuat bila pengecoran beton berhenti lebih dari 30 menit. Sambungan konstruksi melintang tidak boleh dibuat pada jarak kurang dari 3 m dari sambungan ekspansi, sambungan kontraksi, atau bidang yang diperlemah lainnya. Bila dalam waktu penghentian itu campuran beton tidak cukup untuk membuat perkerasan sepanjang minimum 3 m, maka kelebihan beton pada sambungan sebelumnya harus dipotong dan dibuang sesuai instruksi.

4.    Sambungan Pelaksanaan (Construction Joint)

Sambungan pelaksanaan dengan lidah-alur biasanya digunakan pada sambungan arah memanjang (di antara jalur-jalur penghamparan yang terpisah) dapat dibentuk dengan cara acuan gelincir atau dengan baja cetakan standar. Apabila digunakan lapis pondasi bawah dengan stabilisasi, maka sambungan lidah alur dapat ditiadakan.

Pada sambungan pelaksanaan dengan lidah-alur perlu disediakan tempat untuk pemasang batang pengikat. Apabila diperlukan atau diijinkan maka batang pengikat dapat menggunakan batang berulir atau batang pengikat jadi. Apabila digunakan batang pengikat yang dapat dibengkokkan dan diluruskan kembali, maka batang tersebut harus mengikuti persyaratan ASTM untuk menjamin bahwa tulangan dapat dibengkokkan dan diluruskan kembali tanpa mengalami kerusakan / pecah.

Dengan demikian, apabila metoda tersebut disyaratkan, maka harus dilakukan langkah-langkah pencegahan untuk menjamin hasil yang baik. Salah satu cara untuk mencegah kerusakan batang pengikat akibat pembengkokan dan pelurusan kembali adalah sebagai berikut (lihat Gambar 7.1.4.).

Metoda untuk mengurangi kerusakan, bila digunakan baja keras sebagai batang pengikat yang dibengkokkan ke dalam alur dan diluruskan kembali.

a.     Batang pengikat dipasang miring membentuk sudut 30° dengan bidang sambungan.

b.     Batang pengikat dibengkokkan 30° sehingga rata dengan permukaan bidang sambungan.

Mesin penghampar acuan gelincir harus dilengkapi dengan peralatan (device) yang cocok untuk pemasangan batang pengikat atau pengikat jenis lain yang dapat memegang plat-plat pada lajur berdampingan tetap pada posisinya.

Sambungan pelaksanaan melintang harus dibuat pada akhir pelaksanaan tiap hari atau pada tempat akhir pekerjaan yang disebabkan oleh adanya gangguan pelaksanaan. Letak sambungan pelaksanaan melintang harus diusahakan sama dengan letak sambungan susut.

Keadaan cuaca akan mempengaruhi lamanya batas keterlambatan yang diijinkan dalam penghentian hamparan. Keterlambatan selama 30 menit dipandang sebagai batas yang bisa diterima untuk cuaca panas, kering dan berangin, sedangkan keterlambatan sampai 1 jam masih bisa diterima pada cuaca yang tidak membahayakan.

Sambungan pelaksanaan melintang harus dibentuk dengan cara menempatkan sekat yang mempunyai bentuk dan ukuran yang tepat dan mempunyai lubang untuk menempatkan jeruji. Arah sambungan pelaksanaan melintang kurang dari 3 m (10 ft) harus dihindarkan.

Jika adukan beton tidak mencukupi untuk membuat pelat dengan panjang paling sedikit 3 m (10 ft), maka sambungan pelaksanaan harus dibuat pada tempat sambungan sebelumnya. Jarak sambungan melintang yang berikutnya harus diukur dari sambungan susut melintang yang terakhir.

5.    Sambungan Muai (Expansion Joint)

Sambungan muai harus ditempatkan di antara pertemuan bangunan (misalnya lubang got / manhole, bak penampung) dengan plat perkerasan beton. Kecuali apabila tidak disebut lain dalam Gambar Rencana, maka sambungan harus terbuat dari jenis sambungan jadi dengan ketebalan tidak kurang dari 0,6 cm. Jika tidak ditentukan lain, maka untuk sambungan muai melintang harus dibuat tegak lurus sumbu perkerasan dan harus dibuat selebar perkerasan.

6. Sambungan Susut (Contraction Joint)

Sambungan susut dengan takikan palsu atau penampang diperlemah, harus dibuat secara hati-hati untuk menjamin agar dalamnya celah sambungan cukup untuk mencegah terjadinya retak yang tidak terkendali. Disarankan dalamnya celah pemisah minimum adalah sebesar ¼ tebal pelat. Dalam segala hal penutupan celah harus diselesaikan sebelum lalu-lintas diijinkan lewat, termasuk lalu-lintas selama pelaksanaan.

Apabila diperlukan penyalur beban untuk melayani lalu-lintas dengan volume yang tinggi dan beban yang berat, harus digunakan ruji (dowel).

Bila pada perkerasan untuk lalu-lintas dapat digunakan lapis pondasi mutu tinggi, misalnya campuran semen atau aspal, maka sambungan tanpa ruji pun bisa melayani lalu-lintas secara memuaskan. Namun demikian secara umum, sambungan jenis ini, tetap dianjurkan menggunakan penyalur beban.

Penempatan ruji secara tepat harus dijamin, agar ruji dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Sistem pemberian tanda secara tepat dapat diterapkan untuk menjamin agar penggergajian atau pembuatan takikan tepat berada di tengah ruji. Takikan tidak boleh kurang dari ¼ tebal plat.

Sistem Penyalur Beban

  1. 1.       Ruji (Dowel)

Batang ruji harus ditempatkan di tengah tebal pelat. Posisi ruji pada arah horizontal dan vertikal harus dijamin sejajar sumbu jalan dengan menggunakan perlengkapan atau dengan cara penempatan dengan mesin yang telah teruji. Kepadatan beton yang baik di sekeliling ruji sangat dituntut agar supaya ruji bisa berfungsi secara sempurna.

2.Pelapis Ruji

Bagian batang ruji yang bisa bergerak bebas, harus dilapisi dengan bahan pencegah karat (korosi).

Sesudah bahan pencegah korosi kering, maka bagian ini harus dilapisi dengan lapisan tipis pelumas (dengan cara penyapuan) segera sebelum ruji dipasang.

Ujung batang ruji yang dapat bergerak bebas harus dilengkapi dengan topi / penutup ruji (pada expansion joint).

Pelapis ruji dari jenis plastik yang telah teruji atau pralon yang tertutup dapat digunakan sebagai pengganti pelumas, atau penggunaan jenis pelapis lainnya yang dimaksudkan untuk mencegah lekatan dengan beton dan atau karat, dapat juga digunakan.

  1.  Alat Transfer Beban (Load Transfer Devices) Bila digunakan ruji (dowel), maka harus dipasang sejajar dengan permukaan dan garis sumbu perkerasan beton, dengan memakai pengikat / penahan logam yang dibiarkan terpendam dalam perkerasan.

Ujung ruji (dowel)  harus dipotong rata. Ukuran bagian dowel yang harus dilapisi aspal atau pelumas lain harus sesuai yang tertera pada Gambar Rencana, agar bagian tersebut tidak ada lekatan dengan beton, diberi penutup (selubung) ruji dari logam yang disetujui, harus dipasang pada setiap batang ruji  pada sambungan ekspansi. Penutup itu harus berukuran pas dengan batang ruji, dan bagian ujung yang tertutup harus tahan air.

Pemasangan Perlengkapan Ruji

Perlengkapan pemasangan ruji (berupa rangkaian dudukan/chair) harus ditempatkan pada lapis pondasi bawah atau tanah dasar yang sudah disiapkan.

Perlengkapan pemasangan ruji arah melintang harus ditempatkan tegak lurus sumbu jalan, kecuali ditentukan lain pada Gambar Rencana. Sambungan dengan ruji yang diperlukan atau diijinkan untuk dipasang tegak lurus sumbu jalan, memerlukan pendetailan dan pemasangan yang sangat teliti guna menjamin pergerakan bebas. Ruji dipegang kuat pada posisi yang ditetapkan.

Pada tikungan yang diperlebar, sambungan memanjang pada sumbu jalan harus sedemikian rupa sehingga penempatan sedapat mungkin mempunyai jarak yang sama dari tepi-tepi pelat.

Sambungan harus dipasang pada garis dan elevasi yang diperlukan dan harus dipegang kuat pada posisinya dengan menggunakan patok-patok dengan peralatan atau dengan metode lainnya. Ruji harus dipasang sedemikian rupa sehingga berat beton selama pengecoran tidak akan mengganggu kedudukannya. Apabila sambungan dibuat secara bagian demi bagian maka sambungan tersebut harus merupakan kesatuan.

Batang ruji harus diperiksa posisinya, segera setelah perlengkapan pemasangan sambungan dipasang pada tanah dasar atau lapis pondasi bawah dan sistem sambungan harus diperiksa untuk mengetahui apakah sudah terpegang kuat dan tidak ada perubahan posisi.

Setiap sistem sambungan yang tidak terpegang kuat, harus diperbaiki. Kawat atau batang baja yang digunakan untuk mengikat perlengkapan pada waktu pengangkutan dan diperkirakan dapat menghambat penyusutan awal beton, harus disingkirkan sebelum beton dihampar.

Penutup Sambungan (Joint Sealing)

Celah sambungan harus ditutup dengan bahan penutup yang disyaratkan, segera setelah perawatan selesai sebelum lalu-lintas diijinkan melewati perkerasan termasuk kendaraan Kontraktor.

Bahan penutup harus dipasang dalam celah sambungan sesuai detail yang ditunjukkan pada Gambar Rencana. Pemasangan harus dilakukan sedemikian sehingga bahan penutup tidak melimpah atau mencuat diatas permukaan pelat. Setiap kelebihan bahan penutup pada permukaan plat harus segera disingkirkan dari permukaan pelat dan dibersihkan.

Celah sambungan harus dibersihkan dari bahan-bahan asing sebelum bahan penutup dipasang. Semua bidang dalam celah sambungan harus bersih dari bahan-bahan lepas dan bila digunakan bahan penutup yang dituang panas, permukaan harus kering.

Bahan penutup sambungan yang dibuang tidak boleh dituangkan pada suhu yang dapat menimbulkan ketidaksempurnaan pemasangan. Petunjuk dari pabrik pembuat bahan penutup harus diperhatikan.

Jika digunakan penutup sambungan siap pakai, seperti neoprene (penutup jadi yang ditekan), maka bahan penutup harus dapat menyesuaikan lebarnya dengan lebar celah sambungan yang diperkirakan akan terjadi. Peralatan pemasangan harus menjamin bahwa bahan penutup tidak akan mulur lebih dari 5 % karena pemuluran yang lebih besar akan memperpendek umur bahan tersebut.

Tulangan

Apabila pada perkerasan bersambungan digunakan tulangan, maka tulangan tersebut harus terdiri dari anyaman kawat dilas (welded wire fabric) atau anyaman batang baja (bar mats) sesuai dengan yang diuraikan pada Butir 7.4.7.

Lebar dan panjang anyaman baja harus sedemikian rupa, sehingga pada waktu anyaman tersebut dipasang. kawat / baja yang paling pinggir terletak tidak kurang dari 5 cm (2 inch) atau tidak lebih dari 10 cm (4 inch) dari tepi / sambungan pelat.

Penggergajian (Saw Cutting)

Penggergajian harus dilakukan sedemikian sehingga tidak terjadi penggumpalan pada beton muda dan harus dilakukan pada saat belum terjadinya retak-retak susut, waktu penggergajian terbaik yaitu antara 4 – 20 jam setelah pengecoran.

Cara penggergajian dengan menggunakan mata gergaji intan (diamond blades., Bila pengikis basah (wet abrasive blades) maupun bila pengikis kering (dry abrasive blades), harus dilakukan secara perlahan-lahan untuk mencegah terjadinya sambungan yang kasar.

Kecenderungan retak susut akibat keterlambatan penggergajian pada sambungan memanjang lebih kecil dibanding pada sambungan melintang.

Sekat Pemisah Tipis

Sekat pemisah dari polyethylene atau bahan lainnya yang mempunyai tebal tidak kurang dari 0,33 mm, dapat disisipkan ke dalam beton plastis dengan mesin. Sekat pemisah harus terpasang secara vertikal.

Persiapan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak sampai mengakibatkan seluruh sekat terbenam di bawah permukaan pelat atau jangan sampai menimbulkan pelepasan butir (ravelling). Sambungan ini jangan ditutup (sealed).

Sekat pemisah polyethylene tidak dapat mengendalikan terjadinya retak memanjang.

Sekat Pemisah Lainnya

Sekat pemisah lainnya yang secara keseluruhan atau sebagian bisa dicabut sebelum sambungan ditutup dapat digunakan.

 

PENGECORAN DAN PENYELESAIAN AKHIR BETON

Pengecoran

  1. 1.          Peralatan Pengecoran

Peralatan pengecoran harus mampu mengalirkan adukan beton dari mesin pengaduk atau alat pengangkut campuran beton dan menuangkannya ke setiap tempat tanpa terjadi pemisahan butir (segregasi) dan tanpa merusak permukaan yang dihampar. Pada pekerjaan besar, pengecoran seringkali menuntut penggunaan ulir (screw), ban berjalan (belt), atau wadah (hopper) sebagai alat penghampar adukan.

Peralatan ini biasanya beroperasi dari bahu jalan atau dari jalur sebelahnya dari jalur yang sedang dikerjakan, dan menuangkan campuran beton ke seluruh lebar permukaan yang telah dibentuk. Apabila pengecoran dilakukan dengan mesin pengaduk berjalan (truck mixer), dan untuk menuangkan adukan hanya tersedia talang (chute), maka disarankan dilakukan penghamparan jalur sesaat (lane at a time).

Beton tanpa tulangan bisa juga dilaksanakan dengan menuangkan campuran beton di atas permukaan di depan mesin penghampar dengan mengggunakan dump truck.

  1. 2.       Keadaan Khusus

Apabila lebar penghamparan tidak sama (misal pada jalan masuk / ramp, persimpangan), maka metoda pengecoran yang biasa tidak selalu dapat diterapkan. Untuk keadaan demikian, perlu diperhatikan agar untuk mencapai kedudukan akhir, campuran beton jangan dituang secara sembarangan dengan didorong atau digetarkan. Pengecoran secara manual mungkin perlu dilakukan, untuk menghindarkan pemisahan butir.

 

 

Penghamparan

 

Peralatan

 

Pada pekerjan besar, biasanya harus disediakan baik penghampar jenis dayung (paddle) atau ulir (auger), atau ban berjalan, maupun jenis wadah (hopper) dan ulir (auger), kecuali apabila digunakan penghampar acuan gelincir. Pada mesin penghampar acuan gelincir, peralatan penghampar (spreader) merupakan bagian yang sudah melekat (built-in). Untuk mengurangi pemisahan butir, semua peralatan harus dioperasikan secara seksama.

Pada pekerjaan yang lebih kecil, penghamparan dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan peralatan manual.

Dalam hal apa pun, beton harus dihampar dengan ketebalan yang cukup untuk pemadatan dan penyelesaian akhir.

Penghamparan Dua Lapis

Apabila tulangan terdiri dari anyaman dan harus diletakkan secara manual, maka beton di bawah anyaman harus dihampar terlebih dahulu tersendiri (struck-off), kemudian anyaman diletakkan dan selanjutnya lapisan berikutnya dihampar.

Pada pekerjaan besar, kadang-kadang digunakan dua buah mesin penghampar.

Apabila tulangan yang berbentuk anyaman akan dimasukkan pada kedudukan yang dikehendaki dengan cara menggetarkan atau menekannya dengan mesin maka beton dapat dihampar langsung untuk seluruh tebal.

 

Percobaan Penghamparan

 

Kontraktor harus menyediakan peralatan dan menunjukkan metode pelaksanaan pekerjaan dengan cara menghamparkan lapisan percobaan sepanjang tidak kurang dari 30 m di lokasi yang disediakan oleh Kontraktor di luar daerah kerja permanen. Percobaan tambahan mungkin diperlukan, bila percobaan pertama dinilai tidak memuaskan.

Setelah percobaan pertama disetujui, maka percobaan sepanjang minimum 150 m tapi tidak lebih dari 300 m harus dilakukan di daerah kerja permanen. Percobaan ini harus menunjukkan seluruh aspek pekerjaan dan harus mencakup setiap tipe sambungan yang digunakan dalam pekerjaan.

Penghamparan perkerasan beton tidak boleh dilanjutkan sebagai pekerjaan permanen sebelum ada persetujuan terhadap hasil percobaan.

 

 

 

Pemadatan

 

Pemadatan pada sambungan dan tepi-tepi, penekanan, pemadatan secara tumbuk, dan pemadatan secara getar, sampai tingkat tertentu cukup efektif, tapi tidak secara otomatis menjamin kepadatan beton. Mesin getar (vibrator), baik jenis internal maupun jenis permukaan dapat memberikan hasil yang baik. Seluruh perkerasan harus dipadatkan seefektif mungkin. Perhatian khusus harus diberikan terhadap tepi-tepi sepanjang sumbu, dan pada sambungan-sambungan.

Sekitar ruji dan kedudukan, pada tepi-tepi dan sudut-sudut atau sekitar pembuangan air (drains), dan pada pelat-pelat tidak beraturan pada jalan masuk / ramps dan persimpangan, diperlukan ketelitian khusus untuk menjamin kepadatan yang baik.

Penggetar internal dioperasikan di dalam beton untuk mengeluarkan udara sewaktu mesin penghampar bergerak. Mesin penggetar yang dioperasikan secara manual tidak boleh berada di satu titik yang digetarkan lebih dari 5 detik, dengan jarak titik satu dengan titik lainnya antara 25 – 30 cm.

Penyelesaian Akhir

  1. 1.       Mesin Penghampar Acuan Gelincir (Slip Form)

Mesin penghampar acuan gelincir dirancang untuk sekali lintasan dapat menghampar, memadatkan, membentuk permukaan dan meratakan beton yang masih plastis, sehingga dapat memberikan beton yang padat, seragam; dan untuk mendapatkan permukaan yang disyaratkan hanya memerlukan penyelesaian akhir (dengan tangan) yang minimal.

Mesin penghampar harus menggetarkan beton pada seluruh lebar dan ketebalan. Penggetaran biasanya dilakukan dengan jenis penggetar internal yang sudah ada pada mesin tersebut (built-in).

Mesin penghampar acuan gelincir sedapat mungkin harus dioperasikan dengan gerakan yang menerus, dan seluruh operasi pengadukan, pengangkutan dan penghamparan harus terkoordinasi agar supaya dapat dicapai kecepatan yang seragam dan penghentian mesin penghampar yang minimum. Apabila mesin penghampar perlu dihentikan, maka alat penggetarnya harus dihentikan.

Mesin penghampar acuan gelincir mampu mengatasi kesalahan bentuk permukaan lapis pondasi bawah atau dasar secara teliti, dengan menggunakan peralatan otomatis.

 

2.Mesin Penghampar Acuan Tetap (Fixed Form)

Mesin pencetak perkerasan jalan beton dengan sebilah pisau perata, kayuh berputar atau perlengkapan berputar, harus mencetak beton yang bersangkutan sehingga memiliki elevasi, dimensi, kerataan dan kehalusan yang disyaratkan; dan kemudian harus memadatkan beton tersebut dengan vibrasi atau dengan suatu kombinasi vibrasi dan penumbukan mekanis.

Peralatan tersebut kemudian harus menyelesaikan permukaan beton tersebut dengan menggunakan suatu batang perata yang bergoyang (oscilated) melintang atau miring. Suatu batang perata lain untuk pekerjaan penyelesaian yang bergoyang secara melintang atau miring harus disediakan setelah setiap mesin pembentuk sambungan melintang dalam keadaan basah.

Batang perata bergoyang tersebut harus berpenampang melintang persegi dan harus membentangi seluruh lebar pelat yang bersangkutan dan berbobot tidak kurang dari 170 kg/m. Batang ini harus ditunjang pada suatu kereta, yang ketinggiannya harus dikontrol berdasarkan tinggi rata-rata dari sekurang-kurangnya 4 titik yang ditempatkan secara merata dengan jarak antara sekurang-kurangnya 3,5 meter dari rel penunjang, balok, atau pelat, pada setiap sisi dari pelat beton yang sedang diperkeras.

Bilamana perkerasan jalan beton dibangun dengan lebih dari satu lintasan menggunakan mesin dengan roda-roda ber-flens, maka pelat-pelat yang berdampingan berikutnya harus dibangun dengan menyangga mesin tersebut pada rel-rel yang beralas rata yang berbobot tidak kurang dari 15 kg/m, diletakkan di atas beton yang telah diselesaikan untuk menunjang roda-roda ber-flens, atau menggantikan roda-roda ber-flens tersebut pada satu sisi mesin dengan roda-roda tanpa flens bertapal karet. Rel (track) bertapal karet, yang dapat berjalan di atas permukaan beton yang telah diselesaikan juga dapat diterima.

Bilamana digunakan roda-roda tanpa flens atau rel bertapal karet, maka permukaan pelat beton yang dilewati harus segera dibersihkan dan disikat secara seksama di depan mesin untuk membersihkan semua lumpur dan serpihan pasir / kerikil. Roda-roda tanpa flens harus berjalan cukup jauh dari tepi pelat untuk menghindari kerusakan pada pinggiran pelat yang bersangkutan.

3.Pemadatan dan Penyelesaian dengan Balok Vibrasi Terkendali

Bilamana pelat-pelat berukuran kecil atau tidak beraturan, atau bila tempat kerja yang bersangkutan sedemikian terbatas sehingga menyebabkan penggunaan cara-cara yang diuraikan di atas menjadi tidak praktis, maka beton dapat dicor dan diratakan secara manual tanpa pra-pemadatan atau segregasi; dan dipadatkan dengan cara berikut ini.

Beton yang akan dipadatkan dengan balok vibrasi harus dicetak sedemikian sehingga permukaan setelah semua udara yang terkandung dikeluarkan dengan penggetaran berada sama dengan permukaan acuan-acuan sisi. Beton tersebut harus dipadatkan dengan menggunakan sebuah balok penggetar / pemadat dari kayu bertapal baja berukuran tidak kurang dari lebar 75 mm dan tebal 225 mm, dengan suatu masukan energi tidak kurang dari pada 250 watt per meter lebar pelat. Balok penggetar tersebut diangkat dan digerakkan maju ke muka dengan sedikit demi sedikit, tidak melebihi ukuran lebar balok tersebut.

Sebagai alternatif, suatu alat pemadat yang terdiri dari balok kembar bervibrasi dengan kekuatan tenaga yang setara. ekivalen dapat digunakan.

Bila tebal lapisan beton yang dipadatkan melebihi 200 mm, maka diperlukan tambahan vibrasi dengan menggunakan vibrator jenis tabung celup (immersed tube) secukupnya yang diberikan meliputi seluruh lebar pelat, untuk menghasilkan pemadatan sepenuhnya. Setelah setiap 1,5 m panjang pelat selesai dipadatkan, kegiatan di atas harus diulang dengan menarik kembali balok vibrasi 1,5 m, kemudian perlahan-lahan didorong maju sambil melakukan penggetaran di atas permukaan yang telah dipadatkan untuk memberikan suatu permukaan akhir yang halus.

Kemudian permukaan tersebut harus diratakan menggunakan sebuah penggaruk rata (straight-edge) dengan panjang tidak kurang dari 1,8 m sekurang-kurangnya 2 lintasan. Jika permukaan tergaruk secara meluas oleh alat straight-edge tersebut, yang berarti menunjukkan ketidakrataan permukaan, maka suatu lintasan balok bervibrasi harus dilakukan kembali yang diikuti dengan lintasan lanjutan menggunakan alat penggaruk rata.

Kekesatan yang sangat tinggi mungkin diperlukan untuk mendapatkan keamanan tambahan pada daerah-daerah kritis, misal sekitar gerbang tol, persimpangan padat, atau lokasi lain dimana frekuensi pengereman, percepatan, atau pembelokan sering terjadi. Hal ini dapat diatasi dengan pembentukan tekstur yang lebih dalam dari pada yang biasanya, pembuatan alur (grooving), atau jika diperlukan dengan memberikan alumunium oxida, silicon carbide, atau partikel-partikel lain yang tahan aus ke permukaan beton. Pembuatan alur harus dilakukan 1 – 3 jam sesudah pengecoran.

PELEPAAN (Floating)

 

Setelah ditempa dan dikonsolidasikan, beton harus diperhalus lagi dengan bantuan alat-alat lepa, dengan salah satu metoda berikut:

Metode manual

Untuk ini dapat digunakan pelepa longitudinal dengan panjang tidak kurang dari 350 mm dan lebar tidak kurang dari 150 mm, dilengkapi dengan pengaku agar tidak melentur atau melengkung. Pelepa longitudinal dioperasikan dari atas jembatan yang dipasang merentangi kedua sisi acuan tanpa menyentuh beton, digerakkan seperti gerakan mengergaji, sementara pelepa selalu sejajar dengan garis sumbu jalan (centre line), dan bergerak berangsur-angsur dari satu sisi perkerasan ke sisi lain.

Gerakan maju sepanjang garis sumbu jalan harus berangsur-angsur dengan pergeseran tidak lebih dari setengah panjang pelepa. Kelebihan air atau cairan harus dibuang.

Metode Mekanis

Pelepa mekanis harus jenis yang disetujui dan dalam keadaan dapat dioperasikan dengan baik. Pelepa harus disesuaikan dengan bentuk permukaan jalan yang dikehendaki dan dengan mesin finishing melintang (transverse finishing machine). Juga dapat digunakan mesin yang mempunyai pelepa pemotong dan pelepa penghalus yang dipasang dan dikendalikan melalui rangka yang kaku. Rangka ini dijalankan dengan alat beroda 4 atau lebih, yang bertumpu pada acuan samping.

Bila perlu setelah pelepaan dengan salah satu metode di atas, untuk menutup dan menghaluskan lubang-lubang pada permukaan beton dapat digunakan pelepa dengan batang pegangan yang panjang (bertangkai), dengan papan panjang tidak kurang dari 1,50 m dan lebar 150 mm. Pelepa ini tidak boleh digunakan pada seluruh permukaan beton sebagai pengganti atau pelengkap salah satu metode pelepaan di atas. Bila penempaan dan pemadatan dikerjakan tangan dan bentuk permukaan jalan tidak memungkinkan digunakannya pelepa longitudinal, pelepaan permukaan dilakukan secara melintang dengan pelepa bertangkai.

Setelah pelepaan air dan sisa beton yang ada dipermukaan harus dibuang dari permukaan jalan dengan mal datar sepanjang 3 m atau lebih. Setiap geseran harus dilintasi lagi dengan ukuran setengah panjang mal datar.

MEMPERBAIKI PERMUKAAN

Setelah pelepaan selesai dan kelebihan air dibuang, sementara beton masih lembek, bagian-bagian yang melesak harus segera diisi dengan beton baru, ditempa, dikonsolidasi dan di finishing lagi. Daerah yang menonjol / berlebih harus dipotong dan di-finishing

lagi. Sambungan harus diperiksa kerataannya. Permukaan harus terus diperiksa dan dibetuikan sampai tak ada lagi perbedaan tinggi pada permukaan dan perkerasan beton sesuai dengan kelandaian dan tampang melintang yang ditentukan.

Perbedaan tinggi permukaan menurut pengujian mal datar (straight edge) tidak boleh melebihi toleransi yang ditentukan.

PENYELESAIAN PERMUKAAN (Finishing)

Setelah sambungan dan tepian selesai, dan sebelum bahan perawatan (curing) dilakukan, permukaan beton harus dikasarkan dengan disikat melintang garis sumbu (centre line) jalan, atau dengan cara pembuatan alur (grooving) pada arah melintang atau memanjang jalan.

Pengkasaran yang dilakukan dengan menggunakan sikat kawat selebar tidak kurang dari 45 cm, dan panjang kawat sikat dalam keadaan baru adalah 10 cm dengan masing-masing untaian terdiri dari 32 kawat. Sikat hams terdiri dari 2 baris untaian kawat, yang diatur berselang-seling sehingga jarak masing-masing pusat untaian maksimum 1 cm. Sikat harus diganti bila bulu terpendek panjangnya sampai 9 cm. Kedalaman tekstur rata-rata tidak boleh kurang dari 0,75 mm.

PENGUJlAN KERATAAN PERMUKAAN

Begitu beton mengeras, permukaan jalan harus diuji memakai mal datar (straight edge) 3 m. Daerah yang menunjukkan ketinggian lebih dari 3 mm tapi tidak lebih dari 12,5 mm sepanjang 3 m itu harus ditandai dan segera diturunkan dengan alat gerinda yang telah disetujui sampai bila diuji lagi, ketidakrataannya tidak lebih dari 3 mm. Bila penyimpangan dari penampang melintang yang sebenarnya lebih dari 12,5 mm, lapisan jalan harus dibongkar dan diganti.

Bagian yang dibongkar tidak boleh kurang dari 3 m ataupun kurang dari lebar lajur yang kena bongkaran. Bagian yang tersisa dari pembongkaran pada perkerasan beton dekat sambungan yang panjangnya kurang dari 3 m, harus ikut dibongkar dan diganti.

PERAWATAN DAN PERLINDUNGAN BETON

Perawatan

Setelah penyelesaian akhir selesai dan lapisan air menguap dari permukaan atau segera setelah pelekatan dengan beton tidak terjadi maka seluruh permukaan beton harus segera ditutup dan dirawat sesuai dengan metode yang disetujui.

Dalam semua hal, dimana perawatan memerlukan penggunaan air, maka operasi perawatan harus dititikberatkan pada penyediaan air. Biasanya masa perawatan dilakukan selama 7 hari, tetapi waktu tersebut dapat diperpendek bila 70 % kekuatan tekan atau lentur beton dapat dicapai lebih awal.

1.Perawatan dengan Cairan Bahan Kimia (Curing Compound)

Setelah lapis air menguap dari permukaan perkerasan, maka permukaan beton harus segera dilapisi secara merata dengan bahan perawat berupa cairan bahan kimia dengan menggunakan alat penyemprot yang sudah teruji dengan jumlah yang tidak kurang dari 0,27 liter/m2. Untuk menjamin kekentalan dan penyebaran pigmen yang merata dalam bahan perawatan, maka bahan perawat dalam tangki penampung harus diaduk menjelang dipindahkan ke dalam alat penyemprot. Bila dilakukan secara manual, sebaiknya menggunakan alat penyemprot manual yang teruji.

2.Perawatan dengan Lembar Goni atau Terpal

Permukaan dan bidang tegak beton harus seluruhnya ditutup dengan lembar goni / terpal. Sebelum ditutup, lembar penutup harus dibuat jenuh air.

Lembar penutup harus diletakkan sedemikian rupa sehingga menempel dengan permukaan beton, tetapi tidak boleh diletakkan sebelum beton cukup mengeras guna mencegah pelekatan. Selama masa perawatan, lembar penutup harus tetap dalam keadaan basah dan tetap pada tempatnya.

3.Perawatan Dengan Kertas Kedap Air

Setelah beton cukup mengeras, (untuk mencegah pelekatan), maka seluruh permukaan beton harus segera ditutup dengan kertas kedap air. Tepi-tepi lembar kertas yang satu harus menumpang 30 cm dengan tepi-tepi lembar lainnya yang berdampingan. Kertas kedap air harus cukup lebar untuk menutup seluruh lebar perkerasan termasuk bidang-bidang tegak setelah acuan dibongkar. Kertas perawatan harus ditempatkan dan dijaga dalam keadaan menempel pada permukaan dan bidang-bidang tegak selama masa perawatan.

Apabila permukaan beton tampak kering maka permukaan tersebut harus dibasahi dengan cara menyemprot secara halus untuk mencegah kerusakan pada beton muda.

4.Perawatan dengan Lembar Polyethylene Putih / Burlap

Permukaan dan bidang-bidang tegak perkerasan harus seluruhnya ditutup dengan lembar polythylene putih / burlap yang harus diletakkan ketika permukaan beton masih lembab.

Jika permukaan tampak kering, maka permukaan harus dibasahi dengan penyemprotan air secara halus sebelum lembar dipasang.

Lembar-lembar yang berdampingan harus mempunyai lebar tumpangan 30 cm dan harus ditindih sedemikian rupa agar tetap menempel pada permukaan.

Lembar penutup harus mempunyai lebar yang cukup untuk dapat menutup permukaan dan bidang-bidang tegak setelah acuan dibongkar.

Lembar polyethylene harus tetap ditempatkan selama masa perawatan. Untuk memudahkan penanganan, tebal minimum lembar polyethylene sebaiknya 0,1 mm.

5. Perawatan Celah Gergajian

Selama perawatan celah gergajian perkerasan harus dilindungi dari pengeringan yang cepat. Hal ini seringkali dilakukan dengan kertas pilihan atau bahan lainnya yang sesuai.

Perlindungan Perkerasan Yang Sudah Selesai

Perkerasan yang sudah selesai dan perlengkapannya harus dilindungi dari lalu-lintas umum dan lalu-lintas pelaksanaan. Perlindungan ini termasuk penyediaan petugas untuk mengatur lalu-lintas, memasang dan memelihara rambu peringatan, lampu-lampu, rintangan, dan jembatan penyeberangan.

Setiap kerusakan yang terjadi pada perkerasan sebelum dibuka untuk lalu-lintas umum harus diperbaiki atau diganti.

Perlindungan terhadap hujan

Untuk melindungi beton yang belum cukup keras terhadap pengaruh hujan, maka setiap saat harus tersedia bahan untuk melindungi beton tersebut, seperti lembar goni, terpal, kertas perawat atau lembar plastik.

Disamping itu apabila digunakan metoda acuan gelincir maka harus direncanakan penanggulangan darurat untuk melindungi permukaan dan tepi. Apabila diperkirakan akan segera turun hujan maka semua petugas harus mengambil tindakan yang perlu guna memberikan perlindungan menyeluruh kepada beton yang belum keras.

TOLERANSI TEBAL

Semua lapisan permukaan dan lapis pondasi harus dibuat dengan tebal sesuai dengan Gambar Rencana. Pemeriksaan yang teliti terhadap elevasi acuan dan pengukuran ketebalan terhadap permukaan tanah dasar atau lapis pondasi bawah dengan menggunakan benang dipandang cukup memadai. Apabila dipandang perlu memeriksa tebal perkerasan setelah penghamparan, maka tebal perkerasan dapat ditentukan dengan cara pemboran (core drill). Pemboran harus dilakukan pada interval yang disyaratkan.

Pengukuran untuk tiap contoh harus dilakukan sesuai dengan cara ASTM 174.

Penerimaan hasil pekerjaan, antara lain harus didasarkan pada hasil pengujian contoh (core) yang diambil dari pekerjaan yang sudah jadi. Ketebalan perkerasan ditentukan dengan metoda “average caliper measurement of cores”, diuji menurut AASHTO T148.

Untuk menentukan pengukuran, bagian perkerasan yang dianggap sebagai satu kesatuan yang terpisah adalah perkerasan sepanjang 300 m pada setiap lajur lalu-lintas diukur dari ujung perkerasan dimulai dari station kecil (sesuai stationing jalannya). Bagian yang terakhir dalam setiap lajur adalah sepanjang 300 m ditambah sisanya yang kurang dari 300 m. Dari setiap bagian ini, akan diambil contoh berupa core drill secara random. Bila pengukuran core dari suatu bagian ternyata kekurangan ketebalannya tidak lebih dari 5 mm dari ketebalan yang ditentukan, maka ketebalan dapat diterima secara penuh. Jika kekurangan-ketebalannya lebih dari 5 mm tapi tidak lebih dari 25 mm dari ketebalan yang ditentukan, maka akan diambil dua core lagi pada interval tidak kurang dari 90 m, dan dipakai untuk menentukan tebal rata-rata bagian tersebut.

Dalam menghitung ketebalan rata-rata perkerasan, tebal perkerasan yang melebihi ketebalan yang disyaratkan lebih dari 5 mm digolongkan sebagai ketebalan yang ditentukan plus 5 mm, sedangkan yang kurang dari ketebalan yang ditentukan lebih dari 25 mm tidak akan dipakai dalam menentukan tebal rata-rata.

Bila kekurangan-ketebalan core lebih dari 25 mm dari ketebalan yang ditentukan, ketebalan sesungguhnya pada daerah ini akan ditentukan dengan mengambil lagi beberapa core dengan interval tidak kurang dari 3 m sejajar dengan garis sumbu jalan pada setiap arah, sampai ditemukan core yang penyimpangannya tidak lebih dari 25 mm. Daerah yang kekurangan ketebalannya lebih dari 25 mm akan dievaluasi secara teknis, dan bila menurut hasil evaluasi perlu dibongkar, daerah tersebut harus dibongkar dan diganti dengan beton dengan tebal seperti yang tertera dalam Gambar Rencana.

PEMBUKAAN DAN PEMBATASAN LALU-LINTAS

Perkerasan yang sudah jadi harus dilindungi terhadap kerusakan akibat operasi dan lalu-lintas pelaksanaan sampai saat penyerahan hasil pekerjaan.

Dalam hal apa pun, peralatan pengangkut adukan atau mesin pengaduk di lapangan, truk pengangkut adukan hanya diijinkan lewat di atas jalur yang baru selesai, setelah perkerasan dirawat paling sedikit 4 hari dan beton telah mencapai kekuatan (flexural strength) umur minimum 40 kg/cm2.

Sambungan melintang dan memanjang harus ditutup atau dilindungi dengan cara lain sebelum lalu-lintas pelaksanaan diijinkan lewat. Semua tepi pelat harus dilindungi dari kerusakan.

Perkerasan yang dilewati peralatan pelaksanaan harus tetap bersih, dan ceceran beton atau bahan lainnya harus segera disingkirkan. Lalu-lintas umum harus dicegah masuk dengan memasang rintangan dan rambu-rambu sampai beton berumur paling sedikit 14 hari atau lebih lama bila diperlukan untuk memperoleh kekuatan cukup. Lalu-lintas tidak diijinkan masuk selama sambungan belum ditutup. Setiap perkerasan yang rusak akibat lalu-lintas / peralatan pelaksanaan atau kareha hal lainnya sebelum penerimaan hasil pekerjaan, harus diperbaiki atau diganti dengan metoda yang telah teruji.

 

Selasa 25 September 2012. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di Poli Mata RSU Provinsi. Ditemani oleh 3 orang kawan sekaligus pengawal pribadi, Amin, Cahya dan Iksan🙂
Masuk ke Poli Mata untuk bertanya bagaimana cara melakukan pemeriksaan, nanya suster-susternya yang masih muda (sengaja), ane diminta ngambil nomor antrian dulu di ruangan dekat Apotek Pelengkap RSU Provinsi.
Jaraknya sekitar 50 m dari Poli Mata. Kemudian ane kesana buat ngambil nomor. Setelah sebelumnya diminta ngisi biodata pada secarik kertas, akhirnya ane dikasih Buku Rekam Catatan Medik dan Kartu warna putih; judulnya Kartu Pasien.
Tadaaa.. Akhirnya ane kembali ke Poli Mata dengan menyerahkan buku sama Kartu Pasien. Diminta nunggu sebentar karena sebelumnya udah banyak pasien yang ngantri disitu.. Jadilah kami, 4 pemuda tampan menunggu dengan sabar di ruang terbuka yang sudah sediakan lengkap dengan kursi tunggu dari pihak rumah sakit. Sambil memandang-mandang kiri kanan, atas bawah mungkin saja ada yang bisa dipandang hehehe..😉
Sambil menunggu, ane coba masuk ke ruang Poli Saraf yang kebetulan bersampingan dengan ruang Poli Mata dan kebetulannya lagi, tante ane adalah pemeriksa di Poli Saraf. Pertama nengokin kepala ke ruang Poli Saraf (dengan sengaja tentunya).
Yess, ane dilihat dan tanpa dikomando (Polisi kaleee..) tante ane langsung keluar begitu melihat wajah cakep sang ponakan..
Setelah menjelaskan sedikit maksud, tujuan dan manfaat kedatangan ane kesitu, sekali lagi tanpa komando tante ane langsung masuk ke ruang Poli Mata, entah untuk ngomongin apa. Beberapa menit kemudian dari luar ruangan ane dengar suara tante ane bilang gini.. “Itu ponakan saya ya, dia mau periksa mata, katanya pandangannya agak kabur..” Ujung-ujungnya ane tau nih, pasti biar antrian ane dipercepat (itu nepotisme bukan ya? hehehe..)
Kemudian ane kembali nunggu bareng teman-teman.. Setelah 15 menit nama ane blon juga dipanggil, ane inisiatif nanya susternya (sepertinya sih masih anak magang dari sekolah perawat gitu) “Mbak, pasien atas nama Ramadhan masih lama ya??” Susternya jawab “Iya mas kan mesti ngantri..” Ane bilang lagi “Oke deh mbak, kalo gitu saya ke BPD dulu yak” Suster : “Iya mas silahkan..”
Sebelumnya emang ane dapet tugas dari kantor buat ngatarin surat ke BPD (Bank Pembangunan Daerah), tapi bukan kurir lho hehe..
Sejurus kemudian ane dan Cahya starter motor trus langsung kebut ke BPD yang jaraknya kira2 1,5 km dari RSU. Sampai di BPD, ane ma cahya langsung naik ke lantai 2 buat ke Bagian Treasury. Ane cari staff yang bisa dititipin surat, baru ngomong sebentar sama cewek yang mo dititipin surat, eh udah ada telfon dari Amin katanya nama ane udah dipanggil ama si suster.. So, setelah minta tanda terima surat, kita berdua langsung kebut lagi kembali ke RS. Begitu sampai ane langsung masuk
dalam ruangan untuk konfirmasi, ternyata benar nama ane udah dipanggil-panggil sedari tadi, mereka juga udah keliling nyari-nyari gue (dari roman muka mereka, ane tahu sepertinya mereka takut sama tante gue hihihi.. tante gue emang sedikit galak dan tegas). Jadilah ane masuk ke ruangan, diminta duduk dulu karena di dalam ngantri juga ternyata..
Ada nenek-nenek yang lagi tes mata, jujur ini pertama kali gue lihat orang lagi tes mata dan juga pertama kali mata gue akan dites pake kacamata yang lensanya bisa diganti-ganti..
Jreeeengg.. tiba giliran ane untuk dites, dikasih pake kaca mata yang lensanya bisa diganti-ganti.. Sekitar 10 menit tesnya kelar dan gue diminta nunggu untuk ketemu ama dokternya. Giliran gue masuk ketemu dokternya, oh ya nama dokternya dr. Stella Maris.
Masih kelihatan kecantikannya meski umurnya sudah sekitar 40an lebih menurut gue.
Dokternya bilang gini, “jarak pandang mata kanan kamu sisa 6 meter doang, sedikit lagi kamu buta!” waduh dok..
Dokter :”Sudah berapa lama seperti ini??”
Ane :” Saya udah rasa kabur sejak SMA dok..”
Dokter :”Sejak SMA dan ini baru pertama kali periksa???”
Ane :”Iya dok..”
Dokter “Jangan main-main sama mata ya, mata itu jendela dunia lho.. ini harusnya segera diperiksakan begitu kamu rasa ada yang salah dengan penglihatanmu”
Jadilah ane diam seperti kucing disiram air.. Ya emang ane yang salah sih..
Ternyata gue divonis atropi, gue gak tau sama sekali atropi itu apa.. dan yang bodohnya lagi gue lupa nanya dokter atropi itu apa..
Alhasil gue mesti ngandalin om Google lagi😀
Nah karena ane belum nanya dokternya langsung atropi seperti apa yang saya alami, maka tulisan saya berhenti disini dulu. Tanggal 9 Oktober nanti ane diminta buat kontrol lagi setelah pengobatan. Untuk saat ini ane dikasih 2 jenis obat, yang pertama Augentonic,
cara pakainya ditetesi di mata sebanyak 1 tetes pada masing-masing mata repetisi sebanyak 3 kali dalam 1 hari. Obat ini bila sudah terbuka maka hanya akan bertahan selama 1×24 jam. Kalau sudah lebih dari 24 jam maka harus buka botol obat yang baru. Yang kedua obat racikan ane gak tau namanya apa, nanti kalo ketemu dokternya ane tanya dulu ya..
Oh ya dari hasil googling ane tahu bahwa Atropi secara umum adalah pengecilan otot dikarenakan otot tersebut tidak dipakai dalam waktu yang lama. Misal kalo ada orang sakit trus tidak bisa jalan atau berbaring terus-menerus maka otot-otot kaki atau betisnya akan mengalami atropi atau pengecilan.
Nah kalau pada mata biasanya dinamakan Atropi/Atrofi Saraf Optikus adalah kondisi medis yang ditandai denga berkurangnya lapang pandang dan ketidakmampuan melihat secara jelas, penyebabnya bervariasi tapi umumnya disebabkan ketidakcukupan suplai darah. Untuk lebih jelasnya
nanti ane tanya dokternya langsung yah.. Cukup sekian untuk saat ini, selain berdoa sama Sang Pemberi Kehidupan, ane mohon doanya juga yah semoga penyakit ini bisa dan lekas sembuh..

“Hasbunallahi wa ni’ma wakiil.. Ni’mal maula wa ni’mal nasiir”

“La haula walaa quwwata illabillahil aziim”

🙂 Wassalam

Bettina Wulff, istri mantan Presiden Jerman Christian Wulff diketahui telah melayangkan gugatan hukum terhadap Google ke Pengadilan Regional Hamburg.

Langkah hukum ini diambil gara-gara fitur autocomplete sugestion Google menampilkan kata ”prostitut”, ”escort” dan ”red light” secara otomatis saat namanya dimasukkan dalam mesin pencari tersebut.

Dikutip dari Reuters, Rabu 12 September 2012, mantan ibu negara termuda Jerman ini mengungkapkan ketakutannya bila hasil pencarian ini dilihat oleh putranya. “Bila dia memasukkan namaku dan hal itu yang pertama kali dilihatnya…ini sangat mengerikan dan memalukan. Aku tak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata,” ujarnya.

Di negerinya sendiri Nyonya Wulff memang tengah diterpa gosip tak sedap yang menyebutkan bahwa ia merupakan mantan wanita penghibur. Foto ”Lady Viktoria” yang menampilkan seorang wanita blonde dengan penutup mata kerap dibandingkan dengan Wulff dan dijadikan olok-olok di negeri tersebut.

Google menanggapi langkah hukum ini dengan menyatakan bahwa pihaknya sama sekali tidak memilih kata yang ditampilkan dalam fitur autocompletion.

“Google secara otomatis menampilkan kata yang merefleksikan pencarian yang dilakukan oleh publik. Hal ini ditarik oleh algroritma yang mempertimbangkan banyak faktor, salah satunya adalah popularitas kata pencarian tersebut,” ujar Kay Oberbeck, juru bicara Google dalam pernyataan tertulisnya.

Google pernah beberapa kali menghadapi tuntutan serupa di berbagai negara. Januari lalu, misalnya, raksasa mesin pencari ini diperintahkan membayar ganti rugi sebesar US$ 65 ribu karena dalam fitur yang sama, nama sebuah perusahaan asuransi ditampilkan bersama kata ”penipu”dan ”bajingan”.

Sementara itu Maret lalu Pengadilan Jepang juga memerintahkan Google untuk mengubah algoritma yang digunakannya, setelah seorang pemuda menggugat karena namanya ditautkan pada kejahatan yang tidak pernah ia lakukan.

Dilansir dari Tempo.co

Jujur, tulisan ini saya Copy Paste dari blog milik Kei (Link Blog terdapat di bagian bawah tulisan ini). Asal muasal saya tertarik dengan By Pass jantung karena mendengar percakapanPaman-paman saya yang bekerja di Rumah Sakit🙂 Jadi sedikit Corious dengan By Pass jantung, kemudian Googling dan berikut uraian mengenai apa itu by pass jantung dan pemasangan ring pada pembuluh darah :

Saya membuat post ini dari hasil mengkopi penjelasan dari Dr. Fuad Jindan, beliau sebagai Konsultan Ahli Bedah Jantung, Heart Centre NRW, Bad Oeynhausen, Germany yang menjelaskan :

Penyakit Jantung koroner pada umumnya baru di indikasikan utk Operasi ByPass apabila ada penyumbatan lebih dari 50 % di lebih dari 2 atau 3 pembuluh darah di Jantung.
Operasi Jantung lebih di tentukan keberhasilannya dan prognosenya apabila fungsi jantungnya masih di atas normal atau sedikit di bawah normal yang dapat diketahui lewat pemeriksaan Echokardiographie atau kateterisasi Jantung sekitar lebih 55 %. Apabila di bawah 35 %, sangat besar resikonya untuk operasi Jantung.

Operasi Jantung / Bypass bila di lakukan dengan mengambil material utk pembuluh darah pengganti dari arteri yang terdapat di tangan ( a. Radialis ) dan di bwh dinding dada ( a. Thoracica ) dapat bertahan selama 20 – 25 tahun bebas serangan Jantung Koroner. Apabila pembuluh darah pengganti di ambil dari kaki, dapat bertahan sekitar 10 – 15 tahun bebas serangan jantung koroner pasca Operasi ByPass.

Tetapi semuanya tergantung dengan pencegahan terhadap hal-hal yang menyebabkan penyumbatan terjadi seperti penyakit DM (Diabetes Melitus) -nya hrs di terapi, obat-obat pengencer darah rutin di minum PASCA OPERASI, dan kolesterol dijaga jangan sampai di atas normal.

Sedangkan Stent atau Ring ( di balon dulu setelah itu di pasang ring ) atau Balon ( hanya di kembangkan tanpa memasang ring ), hanya mempunyai waktu 5-7 thn bebas penyumbatan pasca dilakukan operasinya, setelah itu secara natur (alami) akan terbentuk lagi penyumbatan dan akan ada (kemungkinan) serangan jantung koroner lagi utk Stent, untuk Balon hanya 2- 3 tahun bebas serangan, setelah itu akan terbentuk lagi sumbatannya.

Biaya untuk Balon termasuk murah, sedangkan Stent tergantung dari kualitas Stent-nya, Stent yang bagus dapat bertahan sampai 7 tahun bebas serangan, harga satu Stent sekitar 45 – 75 juta rupiah blm termasuk biaya kateternya, dokternya dan perawatan 1-2 hari di RSnya. Jadi bisa membutuhkan biaya sekitar 150 – 250 juta bila 2 atau 3 atau lebih penyumbatan yg ada dan membutuhkan Stent lebih dari 3 buah.

Pemasangan Stent juga ada resikonya, bila pada saat di lakukan kateter dan pelebaran pembuluh darah jantung dengan balon untuk dapat meletakkan Stent / ringnya itu pecah karena penyumbatan yang keras, harus secepatnya (emergency) dilakukan operasi Jantung ByPass untuk dapat menyelamatkan jiwa pasien.

Operasi ByPass sekali dilakukan dapat melakukan 2, atau 3, atau 5 bypass sekaligus dalam waktu 3-4 jam total waktu operasi. Biayanya sekitar 150- 200 juta rupiah paket operasi dan perawatan selama 7 – 10 hr. Operasi dapat dilakukan di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta atau di Siloam Hospitals ( kolega saya dari Bedah Jantung Royman Simanjuntak ), tidak harus ke Malaysia atau Singapura.

Pasca Operasi Jantung dibutuhkan waktu sekitar 1- 2 bulan pemulihan terhadap pola makan, pendidikan pencegahan terhadap kegemukan dan kolesterol, olahraga dan aktivitas-aktivitas yang boleh dilakukan selama fase tersebut. Setelah itu pasien dapat melakukan semua aktivitas sehari tanpa ada batasan yang dilarang, hanya saja masih di dalam batas-batas normal.

Segala bentuk penyakit penyerta seperti Drh Tinggi, DM, Kolesterol, tidak menjadi faktor yang membahayakan untuk operasi jantung selama fungsi jantung masih bagus, termasuk juga usia. Tetapi usia di atas 70 tahun apabila organ-organ yang lain masih baik seperti ginjal, hati dan pencernaan serta tidak ada riwayat stroke maka TIDAK ADA RESIKO UNTUK DILAKUKAN OPERASI JANTUNG.

Jantung adalah motor penggerak yang ada di dalam tubuh manusia seperti pada mobil dan motor roda dua. Jadi peliharalah, berikan perawatan yang baik terhadap motor tersebut, agar dapat berfungsi dengan baik dan optimal jangan menunggu motor tersebut rusak dan tidak berfungsi.

Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat yang baik utk para pembaca dan peminat blog ini.

Dr. Fuad Jindan
Consultan Ahli Bedah Jantung
Heart Centre NRW, Bad Oeynhausen
Germany.
_______________________________________________

Ditambah ada pernyataan dr. Anis  yang mengatakan :

Komentar Dr. H. Soesilo Wibowo, Sp.Jantung dan Pembuluh darah, pada halaman 108 dan 109 di buku berjudul “Pengalamanku berhasil dengan pengobatan alternatif” dari Penerbit Majalah Nirmala, Jakarta, tahun 2001 :
“Kelebihan (terapi) KHELASI dibandingkan dengan operasi, balon, dsb, (adalah) lebih murah karena tanpa operasi. Bahayanya hampir tidak ada bila ditangani dengan betul, baik dari dosis, waktu, maupun cara pemberiannya dan tidak boleh diberikan cepat-cepat.” Untuk lebih jelas, Silahkan kontak di klinik SMC 021-8504931.
_______________________________________________

Rumah sakit alternatif yang bisa dijadikan pilihan selain yang sudah disebutkan di atas bisa juga ke :

  • RS Adventish Penang, Malaysia dengan Dr. Teh Aink Seng,
  • RS Mahkota Medical Centre, Malaka (Malaysia) oleh Dr. Lim Boon Aik,
  • Rumah Sakit HSC  Kuala Lumpur, Malaysia,
  • Singapore General Hospital oleh Dr. Liem Swie Liem.

_______________________________________________

Sebagai catatan : biaya operasi jantung dengan ASKES di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita GRATIS…. umumnya ada tambahan obat Non Askes sekitar 1,5 jt – 5 juta-an.
Untuk biaya normal pasang ring sekitar 25jt/ring, sementara untuk by pass 55-75 juta rupiah.

Terima kasih sebelumnya kepada Bapak Progoharbowo yang sudah memposting tulisan sebelumnya sehingga saya tidak sengaja menemukan dan membacanya.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Salam,

kei

(Ditulis pada 11 Juni 2011 . Isi tulisan sama sekali tidak ada perubahan)

Berikut linknya : http://keishinta.wordpress.com/2011/06/11/jantung-koroner-katerisasi-ring-stent-dan-bypass/

File Sistem Linux

Posted: May 1, 2011 in Linux
Tags:

File Sistem Linux

     File sistem adalah kumpulan file-file pada suatu media penyimpanan dan mekanisme file-file tersebut diorganisasikan. Secara sederhana file merupakan entitas/dokumen yang disimpan pada media penyimpanan, Tiap-tiap file memilikin informasi tertentu untuk membedakan antara dokumen satu dengan yang lainnya, misalnya nama file, ukuran, attribute, dan sebagainya.

Jenis File Pada Linux

   Sistem operasi lainnya pada umumnya juga memiliki tiga golongan file berikut ini :

  • User Data,
    Yang termasuk golongan ini yaitu file-file yang umumnya diciptakan oleh user untuk menyimpan data, misalnya file teks .odt Open Office dan sebagainya.
  • System Data,
    Merupakan file-file yang digunakan oleh sistem Linux untuk melakukan prosesnya, misalnya file .profile, passwd atau file autoexec.bat pada DOS, dan sebagainya.
  • File Executable,
    File jenis ini berisi informasi yang dikenal komputer sebagai instruksi-instruksi. Instruksi ini lazim disebut program. File inilah yang dapat dijalankan langsung oleh user, misalnya ping, dan sebagainya.

Aturan Penamaan File

     Pada file sistem Linux dimungkinkan untuk memberi nama file hingga 256 karakter. Nama file boleh menggunakan huruf besar atau kecil (saran saya sebaiknya jangan, biar tidak disangka ababil😀 ), dan perlu diingat bahwa Linux juga membedakan antara huruf besar dan kecil. Nama file diperbolehkan menggunakan titik (.), dash (-), dan underscore (_).

Lebih Dekat Dengan Linux

Posted: April 11, 2011 in Linux
Tags:

Apa Itu Linux  ?

Kata “Linux” untuk saat ini sudah tidak asing lagi bagi para pengguna internet dan komunitas mahasiswa yang memiliki hobby untuk mencoba software-software baru. Secara teknis dan singkat dapat dikatakan, Linux adalah suatu system operasi yang bersifat multi user dan multi tasking, yang dapat berjalan di berbagai platform termasuk prosesor Intel 386 maupun yang lebih tinggi. Linux bekerja secara multi tasking artinya dapat menjalankan aplikasi secara bersamaan. Linux bekerja secara multi user artinya Linux mendukung penggunaan aplikasi atau computer untuk melayani beberapa user sekaligus, misalnya sebuah program dapat digunakan bersama-sama pada jaringan (Network).   Sistem operasi ini mengimplementasikan standar POSIX. Linux dapat berinteroperasi secara baik dengan sistem operasi yang lain, termasuk Apple, Microsoft dan Novell. Nama Linux sendiri diturunkan dari pencipta awalnya, Linus Torvalds, yang sebetulnya mengacu pada suatu kumpulan software lengkap yang bersama-sama dengan kernel menyusun suatu sistem operasi yang lengkap. Lingkungan sistem operasi ini mencakup ratusan program, termasuk kompiler, interpreter, editor dan utilitas. Perangkat bantu yang mendukung konektifitas, ethernet, SLIP dan PPP dan interoperabilitas. Produk perangkat lunak yang handal (reliable), termasuk versi pengembangan terakhir. Kelompok pengembang yang tersebar di seluruh dunia yang telah bekerja dan menjadikan Linux portabel ke suatu platform baru, begitu juga mendukung komunitas pengguna yang memiliki beragam kebutuhan dan juga pengguna dapat turut serta bertindak sebagai tim pengembang sendiri.

Perbedaan Mendasar Linux

Satu hal yang membedakan Linux terhadap sistem operasi lainnya adalah harga. Linux ini lebih murah dan dapat diperbanyak serta didistribusikan kembali tanpa harus membayar fee atau royalti kepada seseorang. Tetapi ada hal lain yang lebih utama selain pertimbangan harga yaitu mengenai source code. Source code Linux tersedia bagi semua orang sehingga setiap orang  dapat terlibat langsung dalam pengembangannya. Kebebasan ini telah memungkinkan para vendor perangkat keras membuat driver untuk device tertentu tanpa harus mendapatkan lisensi source code yang mahal atau menandatangani Non Disclosure Agreement (NDA). Dan itu juga telah menyediakan kemungkinan bagi setiap orang untuk melihat ke dalam suatu sistem operasi yang nyata dan berkualitas komersial. Karena Linux itu tersedia secara bebas di internet, berbagai vendor telah membuat suatu paket distrbusi yang dapat dianggap sebagai versi kemasan Linux. Paket ini termasuk lingkungan Linux lengkap, penagkat lunak untuk instalasi dan mungkin termasuk perangkat lunak khusus dan dukungan khusus.

Perbandingan Linux Terhadap Sistem Operasi Lainnya

Linux disusun berdasarkan standar sistemoperasi POSIX yang sebenarnya diturunkan berdasarkan fungsi kerja UNIX. UNIX kompatibel dengan Linux pada level system call, ini berarti sebagian besar program yang ditulis untuk UNIX atau Linux dapat direkompilasi dan dijalankan pada sistem lain dengan perubahan yang minimal. Secara umum dapat dikatakan Linux berjalan lebih cepat dibanding UNIX lain pada hardware yang sama. Dan lagi UNIX memiliki
kelemahan yaitu tidak bersifat free.
MS-DOS memiliki kemiripan dengan Linux yaitu file sistem yang bersifat hirarkis. Tetapi MS-DOS hanya dapat dijalankan pada prosesor x86 dan tidak mendukung multi user dan multi tasking, serta tidak bersifat free. Juga MS-
DOS tidak memiliki dukungan yang baik agar dapat berinteroperasi dengan sistem operasi lainnya, termasuk tidak tersedianya perangkat lunak network, program pengembang dan program utilitas yang ada dalam Linux.
MSWindowsmenawarkan kemampuan grafis yang ada pada Linux termasuk kemampuan networking tetapi tetap memiliki kekurangan yang ada pada MS-DOS.
Windows NT yang juga tersedia untuk Digital Alpha selain prosesor x86. Namun Windows NT ini masih juga memiliki beberapa kekurangan yang telah ada pada MS-DOS.Waktu untuk menemukan suatu bug dalam suatu sistem
operasi ini tak sebanding dengan harga yang harus dibayar.
Sistem operasi Apple untuk Macintosh hanya dapat berjalan di sistem Mac. Juga memiliki kekurangan dari sisi ketersediaan perangkat bantu pengembang (development tool) dan juga kurang dapat secaramudah untuk berintoperasi dengan sistem operasi lainnya. Apple juga telah memungkinkan Linux dapat dijalankan pada PowerMac.

Sejarah Linux

Linux pada awalnya dibuat oleh seorang mahasiswa Finlandia yang bernama Linus Torvalds. Dulunya Linux merupakan proyek hobi yang diinspirasikan dari Minix, yaitu sistem UNIX kecil yang dikembangkan oleh Andrew Tanen-
baum. Linux versi 0.01 dikerjakan sekitar bulan Agustus 1991. Kemudian pada tanggal 5 Oktober 1991, Torvalds mengumumkan versi resmi Linux, yaitu versi 0.02 yang hanya dapat menjalankan shell bash (GNU Bourne Again Shell) dan gcc (GNU C Compiler).
Saat ini Linux adalah sistem UNIX yang sangat lengkap, bisa digunakan untuk jaringan, pengembangan software dan bahkan untuk pekerjaan sehari-hari. Linux sekarang merupakan alternatif sistem operasi yang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan sistem operasi komersial (misalnya Windows 9.x/NT/2000/ME). Linux mempunyai perkembangan yang sangat cepat. Hal ini dapat dimungkinkan karena Linux dikembangkan oleh beragam kelompok
orang. Keragaman ini termasuk tingkat pengetahuan, pengalaman serta geografis. Agar kelompok ini dapat berkomu nikasi dengan cepat dan efisien, internet menjadi pilihan yang sangat tepat.
Karena kernel Linux dikembangkan dengan usaha yang independent, banyak aplikasi yang tersedia, sebagai contoh, C Compiler menggunakan gcc dari Free Software Foundation GNU’s Project. Compiler ini banyak digunakan
pada lingkungan Hewlett-Packard dan Sun.
Sekarang ini, banyak aplikasi Linux yang dapat digunakan untuk keperluan kantor seperti untuk spreadsheet, word processor, database dan program editor grafis yang memiliki fungsi dan tampilan seperti Microsoft Office, yaitu
Star Office. Selain itu, juga sudah tersedia versi Corel untuk Linux dan aplikasi seperti Matlab yang pada Linux dikenal sebagai Scilab.
Linux bisa didapatkan dalam berbagai distribusi (sering disebut Distro). Distro adalah bundel dari kernel Linux, beserta sistem dasar linux, program instalasi, tools basic, dan program-program lain yang bermanfaat sesuai dengan tujuan pembuatan distro.
Ada banyak sekali distro Linux, diantaranya :

  • RedHat, distribusi yang paling populer, minimal di Indonesia. RedHat merupakan distribusi pertama yang instalasi dan pengoperasiannya mudah.
  • Debian, distribusi yang mengutamakan kestabilan dan kehandalan, meskipun mengorbankan aspek kemudahan dan kemutakhiran program. Debian menggunakan .deb dalam paket instalasi programnya.
  • Slackware, merupakan distribusi yang pernah merajai di dunia Linux. Hampir semua dokumentasi Linux disusun berdasarkan Slackware. Dua hal penting dari Slackware adalah bahwa semua isinya (kernel, library ataupun aplikasinya) adalah yang sudah teruji. Sehingga mungkin agak tua tapi yang pasti stabil. Yang kedua karena dia menganjurkan untuk menginstall dari source sehingga setiap program yang kita install teroptimasi dengan sistem kita. Ini alasannya dia tidak mau untuk menggunakan binary RPM dan sampai Slackware 4.0, iatetap menggunakan libc5 bukan glibc2 seperti yang lain.
  • SuSE, distribusi yang sangat terkenal dengan YaST (Yet another Setup Tools) untuk mengkonfigurasi sistem. SuSE merupakan distribusi pertama dimana instalasinya dapat menggunakan bahasa Indonesia.
  • Mandrake, merupakan varian distro RedHat yang dioptimasi untuk pentium. Kalau komputer kita menggunakan pentium ke atas, umumnya Linux bisa jalan lebih cepat dengan Mandrake.
  • WinLinux, distro yang dirancang untuk diinstall di atas partisi DOS (WIndows). Jadi untuk menjalankannyabisa di-klik dari Windows. WinLinux dibuat seakan-akan merupakan suatu program aplikasi under Windows.

Kelebihan Linux

Di sini akan dijelaskan beberapa kelebihan dari sistem operasi Linux/UNIX dibandingkan dengan dengan sistem operasi yang lain. Dan berikut ini adalah beberapa fakta dari hal-hal yang menguntungkan dengan menggunakan program dan file-file Linux/UNIX :
Pada dasarnya semua data tersimpan di dalam harddisk walau ada beberapa kondisi dimana data tersimpan di disket. Linux/UNIX memberikan beberapa proses spesial dimana terminal, printer dan device hardware lainnya dapat diakses seperti kita mengakses file yang tersimpan dalam harddisk atau disket. Ketika program dijalankan, program tersebut dijalankan dari harddisk ke dalam RAM dan setelah dijalankan akan dinamakan sebagai proses.

  • Linux/UNIX menyediakan servis untuk membuat, memodifikasi program, proses dan file.
  • Linux/UNIX mendukung struktur file yang bersifat hirarki.
  • Linux/UNIX adalah salah satu sistemoperasi yang termasuk ke dalam kelas sistem operasi yang dapat melakukan multitasking. Multitasking sendiri adalah keadaan dimana suatu sistem operasi dapat melakukan banyak kerjaan pada saat yang bersamaan.
  • Selainmultitasking, Linux/UNIX juga dapatmendukung multiuser. Yaitu sistemoperasi yang pada saat bersamaan dapat digunakan oleh lebih dari satu user yang masuk ke dalam sistem. Bahkan untuk Linux juga mendukung untuk multiconsole dimana pada saat bersamaan di depan komputer langsung tanpa harus melalui jaringan dan memungkinkan lebih dari satu user masuk ke dalam sistem.

Bagian Sistem Operasi

Sistem Operasi Linux/UNIX terdiri dari kernel, program sistem dan beberapa program aplikasi. Kernel merupakan inti dari sistem operasi yang mengatur penggunaan memori, piranti masukan keluaran, proses-proses, pemakaian file pada file system dan lain-lain. Kernel juga menyediakan sekumpulan layanan yang digunakan untuk mengakses kernel yang disebut system call. System call ini digunakan untuk mengimplementasikan berbagai layanan yang dibutuhkan oleh sistem operasi.
Program sistem dan semua program-program lainnya yang berjalan di atas kernel disebut user mode. Perbedaan mendasar antara program sistem dan program aplikasi adalah program sistem dibutuhkan agar suatu sistem operasi dapat berjalan sedangkan program aplikasi adalah program yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu aplikasi tertentu.
Contoh : daemon merupakan program sistem dan pengolah kata (word processor) merupakan program aplikasi.

Bagian Penting Kernel Linux

Kernel Linux terdiri dari beberapa bagian penting, seperti : manajemen proses, manajemen memori, hardware device drivers, filesystem drivers, manajemen jaringan dan lain-lain. Namun bagian yang terpenting ialah manajemen proses dan manajemen memori. Manajemen memori menangani daerah pemakaian memori, daerah swap, bagian-bagian kernel dan untuk buffer cache. Manajemen proses menangani pembuatan proses-proses dan penjadwalan proses. Pada bagian dasar kernel berisi hardware device drivers untuk setiap jenis hardware yang didukung.

Hak Cipta Linux

Hak cipta Linux dimiliki oleh Linus Torvalds di bawah GNU General Public License (GPL). Hak cipta ini dibuat oleh Free Software Foundation (FSF), yaitu badan yang memberi tempat bagi para programer untuk menciptakan free-software.  GNU sendiri merupakan singkatan dari GNU Not Unix.

Seperti disebutkan sebelumnya, Linux adalah free-software. Istilah free-software yang diberikan GPL disini bukan berarti dimiliki oleh masyarakat (Public Domain). Software Public Domain biasanya tidak memiliki hak cipta dan secara sah dimiliki oleh masyarakat. Tidak demikian halnya dengan free-software yang diberikan GPL, software yang berada di bawah GPL tetap memiliki hak cipta  yaitu oleh pembuatnya.

Sebagai free-software, Linux bebas untuk diperoleh dan digunakan tanpa biaya. Namun, GPL memperbolahkan siapa saja untuk memperoleh, memodifikasi dan mendistribusikan kembali versi mereka bahkan menjualnya kembali untuk keuntungan. Misalnya sebuah perusahaan menciptakan paket Linux pada CD-ROM, perusahaan tersebut boleh saja menjual dan menarik keuntungan dari software tersebut. Namun jika ternyata anda tahu teman Anda memiliki CD tersebut, Anda boleh saja menyalinnya secara gratis dan tidak perlu membeli CD tersebut.

Dalam memodifikasi software GPL, hak cipta software tersebut harus tetap dimiliki GPL dan tidak dapat digantikan atau dibatasi dengan lisensi lain. Misalnya sebuah perusahaan memperoleh Linux kemudian memodifikasi dan menjualnya kembali ke masyarakat. Perusahaan itu tidak boleh membatasi hak yang diberikan GPL atau mengganti GPL itu sendiri meski ia sudah melakukan modifikasi terhadap software tersebut.

Terakhir perusahaan atau perorangan yang menjual software GPL harus menyertakan Source Code dari software tersebut tanpa biaya tambahan pada software yang dijualnya untuk memungkinkan modifikasi lebih lanjut dari software tersebut.

Hello world!

Posted: March 9, 2011 in Uncategorized

Selamat datang di blog sederhana ini. Ini merupakan kali pertama saya nge-blog (wadoh hari gene :hammer), tapi biarlah. Orang di barat sana berkata “Better late than never”. Saya akan mencoba menulis semua untaian fikiran serta apa yang ada di dalam hati yang terkadang kelu untuk diucapakan oleh lidah🙂

Dikarenakan sifat saya yang sedikit pelupa, maka blog ini menjadi wadah bagi saya untuk menjadi buku harian elektronik, beraspirasi, mengeluarkan uneg-uneg, sharing pengetahuan, ataupun sekedar curhat ( wew, ingat rahang bos😀 )

Blog ini masih dalam tahap “Under Construction” sehingga masih belum banyak yang dapat dibaca atau diperoleh dari blog ini. Sekian untuk saat ini. Cheers !

Regards,

Sisi Waktu